Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #15

Setetes Madu

Beberapa minggu telah berlalu, kini bayi itu sudah lewat dari sebulan. Hari itu daftar sekolah, Putu jadi punya alasan untuk mengetahui kebenaran. Saat Nengah tengah bersiap, Niluh juga diajak pagi itu.

"Mau kemana?" ucapan sambil menggendong bayi

"Mau daftar sekolah"

"Daftar? Belum punya KK dan Akte, itu tidak bisa"

"Jangan banyak tanya, semua sudah beres, urus saja anak-anak itu"

Setelah berlalu pergi, Putu menatap anak kedua yang tidak bisa ia gendong. Sudah hampir dua tahun anak itu bisa jalan, ia hanya menatap datar.

"Mengurus anak-anak? Apa bisa? Ini sudah cukup buruk, Kadek seperti terlantar, tidak ada yang urus, aku tidak bisa menjangkaunya selalu"

Nengah meninggalkan HP di rumah, setelah menaruh bayi di tempat tidur.

Putu membuka akun sosial Nengah, tidak sengaja lewat sebuah reels, di tonton hingga selesai.

"Jadi ada perusahaan yang mau nampung karya tulis"

"Tersenyum, "Baiklah, sambil aku menunggu anak-anak ini tumbuh besar, kenapa tidak tulis tangan saja dulu," pikirnya

Kaki melangkah menuju lemari, disana ada buku jurnal besar, kalu diambil.

"Ini cocoknya buat naskah, naskah film, lagi pula aku punya sedikit dasar, nanti revisi saja"

Segala tindakan Putu terjadwal Nengah merasa ada sesuatu yang disembunyikan Putu. Hingga suatu hari apa yang dicari Nengah selama ini ditemukan.

"Oh! Perempuan ini masih ngeyel buat tulisan, tulisan saja jelek, siapa yang minat, melihatnya saja buat eneg," batin Nengah

Ketika kembali Putu terkejut melihat buku jurnal sudah ada ditangan Nengah.

Menatap tajam, "Masih buat sampah, buang waktu! Ini tidak berguna, tidak ada faedahnya!"

Lalu menyobek bagian kertas dari jurnal itu, "Ini lebih pantas jadi pancingan api di tungku!"

Segera Nengah pergi, meninggalkan Putu, bayi menangis karena terbangun. Kadek juga merengek minta makan, yang menyediakan bukan karya yang dianggap sampah, tetapi kondisi anaknya yang belum bisa jalan.

"Inilah paket lengkap derita, Putu habiskan semua derita ini, setelah itu hanya kemudahan yang kau dapat." dalam batin

Putu selalu menyempatkan diri untuk menulis tiap harinya, walau hanya beberapa kata. Memanfaatkan waktu mujur untuk menulis lebih, gaya pencuri itu yang dilakukan.

"Tabungan yang semacam ini mana ada yang rampas, pasti dikira sampah, akan aku jadikan aset berharga," batin Putu

Pikiran yang tenang dan tindakan yang terjadwal membuat Nengah curiga. Ia mencari celah untuk menemukan apa yang

Menatap keluar jendela, "Makin kau tidak suka makin bagus, makin susah makin bagus, karena dengan perasaan itu cerita yang aku buat makin hidup," batin Putu

"Akan aku buat kau meludah ke atas Nengah, kau membakar karyaku. Itu sama saja kau membakar seluruh jalan rejeki kedua putra dari istri sahmu, semesta itu adil"

Apa yang di hati Putu sangat mengerikan, terkesan seperti kutukan tetapi bukan. Menggunakan hukum semesta, adalah hukum mutlak alam yang tidak bisa diubah.

Setelah kejadian itu ada sesuatu yang terjadi, saat menjelang acara tiga bulanan menantu Nengah. Istri dari anak laki-laki kedua mengalami sakit yang terkesan aneh.

Demam tinggi hingga menimbulkan sesak, padahal bayi itu di urus begitu baik. Oleh mertua perempuan dan para bibi dilingkungan keluarga itu.

Saat mencuci di irigasi, seorang perempuan tua menyampaikan kepada Putu.

Lihat selengkapnya