Waktu berlalu, kini Kadek sudah ada kemajuan walau lambat balita itu sudah bisa berjalan. Dinding yang digunakan sebagai penuntun, begitu juga anak ketiga, sangat lincah. Kelincahan setara kakanya, ini sesuatu yang mengurangi beban hati Putu.
"Akhirnya, anak ini bisa jalan juga," dalam hati
Teringat Putu akan sesuatu, sebuah kata yang membuatnya tertekan.
"Punya anak laki-laki dua, belum sah, jangankan dapat warisan diakui sah juga tidak pantas!" Itu yang di ucapkan Kem
"Ya, dia dan anaknya itu, cuma pengganguran hak waris saja!" ucap Ku Mat
Namun ada juga pembelaan dari Ketut Rini, " Jangan begitu! Walau bagaimana, mereka masih keponakan"
"Sudah diam, kamu sudah tidak ada hak, sudah jadi milik keluarga orang," ucap Kem
Yangvbaik terhadap Putu dari pihak keluarga hanyalah Ketut Rini.
"Kak, aku pasti balas kebaikan kakak," batin Putu
Setelah beberapa minggu berlalu, Putu mendengar kabar, kalau Ketut Rini kena sakit. Kaki membusuk akibat gula darah, para ipar itu tidak sudi menengok. Baunya sangat menyengat, namun tidak bagi Putu, ia tidak jijik.
Siang itu, bersama tiga anaknya menengok, anak-anak itu disuruh diam di teras. Putu masuk, melihat iparnya dalam posisi tiduran.
"Mbok Tut, maaf aku baru tahu kalau kena sakit"
" Tidak apa-apa Tu, lagian sudah ada yang urus, kamu tidak usah kesini "
"Aku tidak bisa begitu mbok"
"Tapi kakiku baunya busuk, kasihan kamu, apa lagi anak masih kecil-kecil"
"Bau busuk, tidak lebih busuk dari kelakuan busuk orang"
Mendengar itu Ketut Rini tidak bisa berkata-kata. Dari situ ia bisa melihat Putu memiliki karakter yang baik.
Mereka bicara mengenai perawatan dan pengobatan, tidak lama setelahnya terdengar suara motor Nengah. Lalu berhenti, tidak lama masuk, membawa produk herbal untuk membantu kesembuhan sakit diabetes melitus.
Putu melirik sebentar, "Sampai sini dulu mbok, aku mau pamit dulu"
Ketut Rini mengangguk, Putu keluar kembali pulang bersama anak-anaknya.
"Kalau dia menyalahkan aku, memang dia sudah tidak waras,"batin Putu
Saat Nengah kembali, tidak keluar sepatah katapun. Putu sibuk menidurkan Komang, anak ketiganya, setelah itu mengajari Niluh sambil menyuapi Kadek.
"Ini paket lengkap, akan sangat lengkap jika dia mendikteku lagi. Tapi aku sudah masa bodo, mau dia bilang apa," batin Putu
Dua tahun sudah berlalu, dunia sudah bebas dari Covid 19, dunia sudah kembali berseri. Namun belum untuk Putu, baginnya ada tidak ada Pademi, hidupnya sama saja.
"Dunia sudah bebas dari penyakit, tapi aku belum. Penyakit diskriminasi ini belum sembuh juga, jika kambuh, kumatnya minta ampun," batinnya
Nengah kembali bekerja sebagai kuli, itu kesempatan bagi Putu. Ketika sampai di pasar, mendadak salah satu pemilik kios memanggilnya.
"Putu sini..."
Putu bingung, tolah-toleh ke arah sekitar, suara panggilan terdengar lagi. Putu menunjuk diri saat menghadap perempuan itu, perempuan paruh baya itu mengangguk.
"Ada apa mbok?"
"Kata bibi man kamu itu pintar buat ketupat?"
Berpikir sebentar, "Ya, tapi tidak semua sih... ketupat nasi,sirikan, gong, kalau yang lain mungkin perlu belajar," ucapnya sambil nyengir kuda
"Kesini," perempuan itu menariknya kedalam
Menunjukkan ketupat yang mau dipesan, "Bisa buat ketupat ini?"
Putu mengambilnya, ada lima jenis dalam satu ikat tali. Ada tiga yang sudah dikuasai, yang berbentuk mirip segitiga kurang dipahami.
"Yang dua ini, aku belum paham, apa boleh aku pelajari?"
"Ya, boleh"
"Tapi... tidak bisa selesai cepat"
"Ya tidak apa-apa, lagian tidak perlu segera, nanti kalau sudah jadi, buat sepuluh paket saja dulu"
"Baiklah, ini boleh aku bawa?"