Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #17

Cakar Harimau

Setelah cukup lama Putu bercerita tentang sejarah tempat itu, dari yang dulunya menyedihkan sampai akhirnya layak untuk ditinggali, mahasiswa itu mengangguk-angguk kagum.

"Kami salut sama tindakan Ibu, walaupun Ibu nggak 100% ngurus tempat ini," ucap salah satu dari mereka.

Putu hanya tersenyum tipis, sedikit merasa bangga. Mereka pamit untuk menyusuri area lain, mau mengecek tingkat kebersihan terutama di bantaran sawah.

Putu kembali ke saluran air. Wajahnya serius. Ia terus membersihkan sampah-sampah dan membakarnya sepanjang saluran irigasi. Asap tipis mengepul.


Dari kejauhan Nyoman memperhatikannya. Matanya menyipit, rahangnya mengeras, kesal.

Begitu Putu membelakanginya dan sibuk membersihkan tumpukan lain, Nyoman tiba-tiba menyambar dari belakang. Tarikan kuat, Putu terhuyung lalu jatuh terduduk di tanah.


Putu langsung bangkit dengan cepat, napasnya memburu. Matanya menatap tajam.

"Oh kamu lagi, orang tua?" bentaknya dingin. "Tidak terima? Bukan anggota subak mau beresin sampah di sini?"

Ia menunjuk ke arah aliran air. "Sepanjang aliran ini itu area perkarangan keponakanmu!"

Putu membuang muka, nadanya sinis. "Ini yang namanya kasihan sama keponakan. Siapa yang mau kamu tipu?"


Nyoman makin geram. Wajahnya memerah. Tangannya terangkat mau menampar, tapi Putu sigap menangkis.

Karena sudah di ujung kesabaran, Nyoman merogoh celurit dari pinggangnya dan mengayunkannya.

Putu refleks menendang keras ke paha orang tua itu. Nyoman oleng. Dalam satu gerakan cepat Putu menarik tangannya, membuat Nyoman tersungkur.

Dengan cepat Putu merebut celurit itu dan melemparkannya sejauh-jauhnya ke area aliran irigasi bawah.


Teriakan kaget terdengar. "Eh kamu! Apain pamanku!"

Kem datang berlari, wajahnya panik dan marah.

Putu berdiri santai, kedua tangannya di pinggang.

"Dia mau mencoba membunuhku," ucap Putu tenang tapi sinis

"Sayang sekali celuritnya sudah aku lempar. Mungkin udah jatuh ke aliran besar di bawah."

Ia tertawa pendek. "Jangan mengada-ngada. Kamu itu pintar banget ngarang-ngarang."


"Kerja sana yang bagus," lanjut Putu

"Tapi sayangnya jaga lingkungan sangatlah buruk."

Kem mendengus, wajahnya merah padam.


Tanpa mereka sadari, dari balik semak-semak mengintip sepasang mata. Lensa kamera berkilat, merekam semuanya.


Kem mencaci maki Putu dengan kata-kata kasar. Putu hanya menatapnya datar, matanya dingin.

Tidak jauh dari sana, kedua putra Putu berdiri. Mereka menyaksikan semua itu, tapi tidak berani mendekat. Bocah cilik itu hanya terduduk jauh, matanya membelalak.

Kem makin naik darah. Ia mendorong Putu.

Refleks Putu menghindar. Karena tenaga yang terlalu besar, Kem justru tersungkur jatuh.


Dari kejauhan tampak sejumlah pemuda menenteng botol bir. Jalan mereka sempoyongan.

Salah satu memecahkan botolnya.

Prak!

Tinggal setengah, ujungnya runcing. Ia maju ke arah Putu.


Putu menangkis. Tapi tangan kanannya tertusuk pecahan kaca. Darah langsung menetes.

Rasa sakit dan kesal bercampur. Mata Putu menyala marah. Ia memukul kepala pemuda itu sampai pingsan.


Yang lain menyerang barengan. Salah satu menendang. Putu menangkap kakinya lalu memutarnya.

Wush!

Pemuda itu terhempas dan menimpa temannya.


Putu berdiri di tengah mereka. Napasnya cepat. Tangan kanannya masih berdarah.

Ia meludah ke tanah, jijik.

"Kalian orang-orang payah! Penerus payah! Bisanya mabuk saja kerjaannya, hah?!" bentaknya.

"Kalau orang tua kalian nggak bisa ngajari, maka aku yang akan ngajari kalian!"


Putu mengambil cabang bambu dengan tangan kiri. Ia mencambuk mereka satu-satu. Para pemuda itu merintih kesakitan.

Lihat selengkapnya