Putu benar-benar menikmati hidupnya. Namun ia sadar hal itu hanya berlaku beberapa minggu saja, terlintas dalam pikirannya.
"Akhirnya setidaknya aku bisa menenangkan seluruh pikiran dan jiwaku untuk beberapa waktu. Tapi bagaimana dengan impianku? Lihat saja Kartiki. Dia punya HP smartphone yang bagus sedangkan aku..."
Teringat lagi dengan ucapan Nengah yang begitu menyakitkan. Ketika ia menulis tangan sebuah naskah, Nengah menilai rendah dirinya
"Tulisan saja kamu buat. Memangnya kamu nggak perlu makan? Ini nggak ada faedahnya sama sekali."
"Ya, memang saat ini belum ada, tapi apa salahnya membuat ini sedikit demi sedikit? Nanti kalau sudah jadi dan ada alat pendukungnya, ini bisa menghasilkan uang."
Nengah tidak terima.
"Kamu terlalu khayal. Makan aja susah. Hidup serba kurang. Kamu cita-citamu itu terlalu tinggi. Ketinggian cita-cita, jatuh sakit! Siapa yang susah? Pada akhirnya kamu hanya akan menyusahkan aku saja!"
Kembali lagi ke keadaan sekarang, semangatnya selalu dipatahkan oleh Nengah. Itu yang menyebabkan Putu enggan untuk melangkah.
Namun setelah melihat Kartiki di hadapannya, teringat dulu ia pernah mengatakan sesuatu. Di belakang panggung sekolah, riuh murid lain menikmati hiburan dari tim drama lain.
"Iya, teman-teman terima kasih atas dukungannya. Tanpa dukungan kalian yang memerankan drama ini, mana mungkin ini akan jadi bagus."
Kartiki memuji, "Iya, kamu tuh... layak banget jadi seorang penulis. Kamu itu nanti jadi penulis naskah yang terkenal. Ubah wajah perfilman Indonesia ini dengan karyamu. Itu autentik, tidak lebai"
Kartiki mengancungkan kedua ibu jari. " Pokoknya! Aku tidak bisa kasih komen apa-apa lagi, pokoknya aku bisa ngasih kamu dua jempol."
Putu menjawab, "Iya makasih, tapi kalian tahu aku ini kan orang kelas ke bawah. HP saja jadul. Mana bisa buat ngetik. Laptop saja minjam sama Kakak OSIS."
Itu memori lama di ingatan Putu. Kartiki duduk di kursi sebelah Putu. Membaca isi pikirannya.
"Putu, kamu jangan pernah merasa kecil. Istri kedua itu cuma status"
Memandang lurus kedepan , "Tapi bagaimana dengan minat kamu? Aku masih percaya kalau kamu itu bisa."
Putu sedikit bingung, "Bisa apa maksudmu?"
"Kamu itu bisa jadi penulis naskah terkenal di negara ini."
Putu terdiam menatap Kartiki. Untuk beberapa lama dia hanya terpaku.
"Iya Kartiki. Impian itu masih selalu ada. Bahkan aku sudah membuatnya dalam bentuk tulis tangan," menghela nafas
"Dan aku harus menyembunyikan ini dari Nengah. Karena dulu karya pertamaku itu sudah disobek dan dibakar sama dia. Katanya tidak layak dan pantas, katanya."
Kartiki mengelus dada. Berdiri dan memegang pundak Putu.
"Itu tantangan terbesar kamu"
Menoleh Putu, "Orang yang paling sulit dihadapi itulah orang terdekat kamu. Menikah itu cuma ganti status, yang menentukan keberhasilan itu kamu."
Putu terdiam berpikir.
"Iya Kar, tapi hanya satu halangannya. Lihat saja, bahkan HP jadulku dulu tidak ada di tanganku lagi, karena sudah dijual buat beli beras," wajah di tekuk
"Tapi dia masih merasa sombong kalau dia masih mampu. Itu orang paling menyebalkan yang pernah kuhadapi," menghantam meja dengan tangan kiri
Kartiki mengelus punggung Putu.
"Iya Putu. Kamu sudah cukup bersabar. Dan yang terakhir, aku yakin kamu tidak bisa memaafkan dia. Karena dia itu akan selalu berpihak kepada keluarga besarnya."
Putu mengepalkan tangan.
"Iya. Dia lebih mengutamakan keluarganya daripada aku"
Raut datar, "Iya memang keluarganya penting. Tapi bisa tidak berikan aku tempat? Setidaknya untuk berkarya, aku juga mau sukses tanpa mengusik bagian waris keluarga dia."
Kartiki mencoba menghibur.
"Iya, aku sangat paham, kamu bukan orang serakah di sinetron, mereka terlalu negatif sama kamu"
Kartiki berdiri, Aku punya solusi untukmu."
Putu menatap Kartiki. Bertanya-tanya solusi apa yang dimaksud.
* * *
Beberapa minggu telah berlalu.
Lengan yang terluka itu sudah sembuh. Dan bisa digunakan kembali sebagaimana mestinya.
Keluarga Putu datang. Tampak dengan pakaian adat.
Men Putu mendekati Putu dan duduk di sebelahnya.
"Putu, kamu tahu kenapa kamu terhalang selama ini? Kamu itu belum tuntas melakukan upakara. Kita ini orang Hindu. Kalau tanpa upakara pernikahan yang lengkap, tujuan hidupmu tidak mudah tercapai"
Putu mengernyitkan alis.
Men Putu tersenyum tipis, "Karena apa? Kamu secara niskala terkunci di dua tempat."
"Maksudnya upacara pernikahan?"
"Ya, upakaranya yang lengkap. Tapi kami tidak mengundang siapa pun, selain dari pihak adat. Dan dari pihak adat desa suami kamu sudah kami hubungi juga"
Men Putu berdiri, "Dan hari ini adalah penuntasan untuk upakara kamu."