Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #19

Pendukung Dan Penjukung

Putu terus menulis. Namun tidak pernah sekalipun, Nengah coba ingin tahu apa yang tengah dilakukan Putu.

Dalam pikirannya selalu berspekulasi.

"Begini kalau dia pegang HP, selalu saja melupakan dunia nyata. Apa-apa nanti paketan habis aku yang beli." Itu dalam benaknya.


Itu terjadi beberapa hari. Putu sama sekali tidak meminta paket internet kepada suaminya, Nengah itu. Ia menggunakan cara lain agar dapat membeli paket internet. Yaitu dengan menjual beberapa sarna sesajen untuk menopang keperluannya.


Saat itu Nengah tidak kerja dan uangnya mulai menipis. Putu melihat itu dan mengeluarkan tabungannya berupa sarna sesajen yang siap dijual.


Pagi itu Putu bergerak cepat menuju pasar memberi para langganannya sesajen karena seminggu lagi ada hari raya besar Hindu. Putu mendapatkan beberapa ratus ribu uang.

Putu membeli keperluan rumah tangga. Seperti beras, bumbu dapur dan lauk pauk. Juga ia sengaja menyembunyikan sisa uang tujuh puluh ribu hanya untuk jaga-jaga jika paket data internetnya habis.


Nengah menaruh curiga jika Putu memiliki selingkuhan. Tanpa basa-basi, Nengah melabrak Putu.


"Kamu, dari mana kamu bisa membeli semua ini? Kamu itu tidak pernah kerja sama sekali."


Putu menoleh dengan tatapan datar.

"Iya, aku tidak bisa sehebat kamu bekerja. Ke mana-mana terlihat bawa peralatan, bawa tas ke mana-mana berjualan."


Nengah menahan emosi.

"Kamu itu rumornya punya selingkuhan. Sejak kamu punya HP! HP saja yang kamu ajak bicara. Pasti selingkuhan kamu ada di sana. Hmm?"


Nengah mengambil Android Putu. Ia mencari di semua akun dan WhatsApp. Tidak satu pun ada orang yang mencurigakan.

"Pintar sekali kamu menyembunyikan dia. Kamu itu punya selingkuhan, pasti! Kalau gitu dari mana mungkin kamu punya uang? Berapa kali sudah berzina kamu?"


Kata-kata itu benar-benar menyebalkan. Putu terpancing emosi.

"Oh, iya, iya. Berzina ya. Pokoknya kamu melakukan perzinaan terhadapku dulu!"

Nengah kerjesiap.

"Iya. Iya benar. Aku dan kamu itu dulu berzina. Kenapa? Karena belum sah secara niskala. Itu sama dengan perzinaan. Dan tidak ada restu dari orang tua itu sama dengan perzinaan. Kita sama-sama pendosa!"


Nengah tidak terima dan berdalih.

"Tidak ada hubungannya dengan itu. Yang aku katakan sejak kamu punya HP, kamu hanya HP saja. Tidak pernah ingat sama anak, sama aku!"


Putu buang muka. Menatap tajam Nengah.

"Eh, kalau kira aku tidak peduli, untuk apa aku membeli semua ini? Kalau aku tidak peduli, mana mungkin Niluh bisa punya kemampuan sampai masuk lima besar di peringkat kelas," Putu maju srlangkah

"Juga Kadek, dari tidak bisa baca jadi bisa baca. Memangnya pernah kamu bantu aku ngajarin mereka? Tidak pernah!"


Nengah tidak terima dengan ucapan itu. Putu terlihat sudah berani membangkang baginya.

"Kamu itu kurang ajar ya. Benar sekali kata-kata mereka. Kamu itu sudah berani, ingat kamu itu cuma pendatang kamu. Berani sekali kamu, dengan orang yang sudah lama tinggal di sini."


Putu tertawa.

"Pendatang ya? Oh, pantas saja. Harusnya desa ini sudah maju. Orang-orangnya sama seperti kamu, bener bisa buat desa maju?"

Ucapan itu menusuk hingga lubuk hati, dara dibuat naik hingga ubun-ubun.

"Jangankan sampah yang berserakan di lingkungan ini. Sampah di hatinya saja belum bisa dibereskan. Sok banget paling mampu sekali."


Putu tertawa lagi.

"Ya ampun! Bersih kali di rumahnya tapi lihat saluran irigasi. Itu irigasi apa tempat sampah? Kalau tidak terpaksa aku sudah ambil air di sana. Kalian itu benar-benar payah."


Mendengar kata penghinaan itu, Nengah tidak terima.

Nengah melayangkan pukulan. Segera Putu tangkis dengan tangan kiri. Namun sayang, bukan di telapak tangan tangkisan itu ditahan. Tapi mengenai bagian pergelangan ibu jari. Sakitnya sampai ke ubun-ubun.

Lihat selengkapnya