Derita Istri Muda

Novia dewi
Chapter #20

Pukulan Tanpa Rupa

Nengah mengecek semua akun yang diikuti oleh akun milik Putu. Alisnya mengernyit. Ternyata yang diikuti seluruhnya adalah production house dan platform digital sepuluh besar terbaik di Indonesia.


Nengah tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatap data itu di Android-nya sendiri dengan napas tertahan.


Di sisi lain, Putu tengah membuat voice note. Suaranya bergetar tapi penuh jiwa. Ia mendengarkan ulang isi voice itu, lalu menghela napas panjang dan menaruh HP-nya di dekat jendela. Matanya menerawang keluar.


Nengah mulai penasaran. Jantungnya berdegup. "Apa yang dibuat Putu? Cerita apa? Kenapa rasanya seperti Putu sedang menceritakan bagian terdalam dirinya," batin Nengah.


Dengan tangan gemetar, ia membuka kunci Android itu. Tidak ada kata sandi.


Begitu melihat platform digital yang diikuti, matanya melebar. Sangat mengejutkan. Cerita Putu yang masih belum jadi, ternyata sudah banyak yang menyukai dan menanti babak berikutnya.

Tata bahasanya begitu terjiwai sampai Nengah tidak bisa membantah ataupun menyalahkan Putu.


"Iya... dia memang berbakat," gumam Nengah pelan, suaranya tercekat. "Diam selama ini ternyata dia mengolah kata, mencari informasi, membandingkan, dan membuat kata-kata yang sangat bijak dalam cerita."


Nengah menaruh HP itu kembali ke tempatnya. Dadanya sesak. Ia benar-benar menyesal, namun semua itu sudah terlambat. Tiap kali Putu melihatnya, yang ada hanya tatapan datar. Dingin.


Rasanya ia ingin meminta maaf, tapi Nengah tahu, ia sudah sangat mengecewakan Putu.


Sorot mata itu menandakan bahwa Putu tidak akan pernah peduli lagi. Apa pun yang dilakukan, Putu tidak akan menggubris. Putu ibarat kulkas yang siap membekukan siapa pun yang mencoba mendekatinya.


* * *


Sore hari itu terdengar suara panggilan masuk ke Android Putu. Nomornya tak dikenal, tapi profilnya jelas, platform yang diikuti Putu.


Setelah pembicaraan yang cukup panjang, raut ekspresi Putu berubah. Dari datar, bibirnya sedikit melengkung. Ada senyum kecil yang selama ini jarang muncul.


"Me, bagaimana Meh?" tanya suara di seberang, penasaran

"Hmm iya loh," jawab Putu, suaranya mulai berbinar

"Novel yang Meme buat itu diminati produser. Katanya mau diadaptasi jadi film. Kemungkinan beberapa hari lagi dia akan datang ke sini."

"Wah keren dong Meme!" seru suara itu antusias. "Tidak sia-sia selama ini Meme nulis. Akhirnya Meme bisa membuktikan diri."


Saking semangatnya, suaranya cukup keras. Putu buru-buru membungkam mulut bocah sepuluh tahun itu sambil menahan tawa.

"Diam Niluh," bisik Putu

"Jangan sampai ada yang dengar. Nanti kita kasih kejutan dia."

"Kejutan apa? Siapa yang ulang tahun?" tanya bocah itu polos.

"Aduh dasar anak kecil," Putu menggeleng sambil tersenyum

"Maksudku gini... biarkan ini tidak diketahui orang lain. Bahkan Bape kamu, jangan sampai tahu."

"Eh terus Ibu?"

"Apalagi," kata Putu dengan nada serius

"Anggap saja tidak pernah terjadi. Beberapa hari lagi produser itu akan datang ke sini bersama pihak Dinas Kebudayaan"

Setengah berbisik, "Meme mau lihat seperti apa reaksi mereka, Biang Gosip di saluran irigasi itu. Spekulasi apalagi yang akan disampaikan Bape kamu nanti."

Memangku dadi dengan ujung jari.

"Mau pilih juga di antara mereka, siapa sih yang mulutnya bisa dijaga?"

"Ya... setidaknya bisa diam," jawabnya lirih

"Setidaknya apa Me?"

"Kalau dia diam, tida ikut campur dengan pembicaraan Biang Gosip,Meme akan catat," mata Putu menyipit

"Kalau orang itu suatu saat susah, layak dibantu. Kalau Biang Gosip, seburuk apa pun hidupnya bukan urusan Ibu lagi."

Niluh menatap heran Putu.

Sedikit senyum, "Kamu tahu, kita tidak usah balas dendam ikut mencibir mereka. Cukup pukul dengan bukti."

"Bukti? Memang bukti bisa buat mukul orang? Kan tidak kelihatan," bocah itu mengerutkan dahi.

Putu tersenyum tipis. "Itu... pukulan tanpa rupa. Dan pukulan itu tidak akan membawa kita ke kantor polisi."


Nilo berpikir dalam hati, alisnya bertaut. "Apakah itu salah satu bentuk dendam?"

"Iya Niluh," jawab Putu mantap

"Dendam yang paling elegan. Dendam yang tidak akan menambah dosa. Pembuktian itu adalah harga diri yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun."


Dari kejauhan, Nengah mengintip. Dadanya mencelos mendengar pembicaraan mereka.


"Niluh, pasti ada beberapa murid yang remeh sama kamu atau iri sama kamu," lanjut Putu

"Sudah, jangan pedulikan. Mereka hanya main kata-kata. Tapi kalau main fisik, kamu harus bisa mengelak. Kalau sudah kelewatan, kamu boleh pakai cara Meme."

"Pakai cara Meme? Mukul orang?" tanya Nilo kaget.

"Ya, kalau sudah kepepet ya pukul saja," kata Putu tegas

"Terus lapor ke guru atau kepala sekolah. Kumpulkan bukti dia berbuat tidak menyenangkan ke kamu berkali-kali. Kalau kamu mukul cuma sekali, kamu akan dimaklumi. Tapi jangan keseringan. Kalau sudah kepepet baru."

Lihat selengkapnya