Tiga bulan berlalu. Film itu akhirnya rilis. Layar bioskop penuh. Hasil penjualan tiket melonjak tajam.
Putu mendapat dua puluh persen dari hasil penjualan. Nominalnya, tiga setengah miliar.
Dengan uang itu, Putu membeli tanah impiannya. Satu hektar. Harganya satu koma delapan miliar. Hal itu hanya diketahui oleh Nengah.
Sementara itu, ipar-ipar Nengah kembali menebar rumor.
"Rumah di bawah tebing itu sudah digadaikan," kata mereka di warung.
Sesuai rencana, Putu membangun rumah baru di tanah yang baru ia beli.
"Nengah," panggil Putu suatu pagi, matanya fokus menatap denah
Nengah mendekat.
"Tolong carikan tukang sebanyak mungkin. Aku mau bangun rumah ini lebih cepat."
Nengah terdiam. Alisnya bertaut.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Putu tanpa menoleh.
"Tidak..." jawab Nengah pelan
"Aku hanya berpikir... bukankah kita sudah punya rumah di bawah tebing ini dan masih layak huni?"
Putu akhirnya menutup denahnya. Ia tersenyum tipis.
"Nengah, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku tidak berminat sama sekali mendapatkan bagian warisan."
Nengah gelisah. "Tapi kan kamu berhak di sini. Kamu punya keturunan laki-laki. Warisan itu wajib kamu miliki."
Putu menggeleng. Nada suaranya lembut tapi pasti.
"Nengah, aku datang ke sini hanya minta pengakuan. Biar jelas asal-usulnya. Biar jelas kawitannya. Karena aku ini orang Hindu, bukan orang non-Hindu."
" Tapi..." terpotong
Ia menghela napas.
"Tapi sudahlah Nengah, jangan tapi-tapian. Tolong izinkan aku menang kali ini. Kenapa aku beli tanah seperti ini? Kamu akan lihat drama berikutnya."
Nengah terdiam. Ia tidak bisa membantah. Karena hidup Putu kini jauh lebih mapan dari dirinya.
* * *
Beberapa hari kemudian, ada rapat keluarga di Balai Banjar. Penentuan batas dan bagian tanah warisan.
Sudah lengkap. Paman dan bibi Nengah. Para ipar. Adik-adik Nengah. Semua duduk melingkar dengan wajah tegang.
Putu hadir. Tapi ia tidak peduli. Jemarinya sibuk mengetik naskah di Android.
Mereka sengaja menjenggol bahu Putu. HP Androidnya terjatuh ke lantai.
Putu buru-buru mengambilnya. Mengunci layarnya. Wajahnya tetap datar.
"Eh kamu asyik banget ya sama HP," sindir salah satu dari mereka, nada mengejek
"Kita sedang rapat. Tahu diri, pendatang."
Dalam hati Putu menghela. "Yak ampun. Sok berkuasa sekali. Kamu juga pendatang di sini. Kamu ini hanya mantu di keluarga. Sok banget."
Lalu Nengah datang. Seketika suasana berubah. Semua berpura-pura tenang.
"Andaikan kalian bisa bersikap baik kepadaku," batin Putu sambil menatap Nengah.
"Mungkin aku sudah menjadikanmu artis di perfilman. Tapi sayang, kelakuan kalian sangat buruk. Tidak berguna!"
Rapat dimulai. Mereka membagi-bagi tanah. Dan nama Putu tidak disebut. Zona merah.
Nengah bangkit. Suaranya tegas.
"Tapi kalau secara adat dia sudah sah. Dia juga berhak atas bagian warisannya. Kalian jangan monopoli!"
Putu hanya menatap lurus ke depan. Diam.
"Eh kamu perempuan!" bentak Kumat
"Bahasa diammu itu tidak ada guna! Diam itu memang emas. Tapi tidak semua kuning itu emas! Muka kayak kamu itu, setara kotoran, tahi!" ucap bibi, istri dari Nyoman, paman Nengah
Putu tetap diam. Bibirnya terkatup. Itu bahasa diamnya.