Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #1

Chapter 1

"Saya terima nikah dan kawinnya Almira puspita binti Hadiyanto dengan mas kawin perhiasan 20 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Adryan dengan lantang jelas.

"Bagaimana saksi? Sah?" tanya seorang penghulu.

"Sahh," jawab saksi dan para tamu.

"Alhamdulilah," semua orang yang hadir kompak mendoakan atas pernikahan Almira dan Adryan.

"Selamat, sekarang kalian sudah resmi jadi sepasang suami istri," ucap penghulu.

Mira dan Adryan lalu menandatangani buku nikahnya.

Almira terlihat bahagia atas pernikahannya. Mira dan Adryan saling menatap penuh haru. Almira tak pernah menyangka bahwa dirinya akan dipersunting oleh laki-laki seperti Adryan. 

Sementara seorang wanita paruh baya menatap tajam pada Almira dan Adryan. Dia seperti tengah kecewa dan kesal atas pernikahan Almira dan Adryan yang tengah berlangsung. 


----3 bulan yang lalu----


Sore hari. 

Aku baru saja pulang bekerja. 

"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki rumah.

"Walaikumsalam," jawab seorang pria paruh baya yang menjadi ayahku. Beliau biasa dipanggil Yanto. 

"Baru pulang Mir?" tanya Bapak seraya masih memainkan gawainya.

"Iya, Pak," jawabku lalu mencium punggung tangan Bapak.

"Mir, duduk dulu di sini. Bapak mau ngobrol sama kamu,"

"Ngobrol soal apa, Pak?" tanyaku seraya duduk di samping Bapak.

Aku sedikit menghela nafas ku.

"Mir, tadi siang Bapak ke rumah Om Ridwan, terus katanya, Om Ridwan punya calon buat kamu," 

"Calon?" tanyaku sedikit terkejut. 

Bapak menghela nafasnya seraya merubah posisi duduknya dengan lebih tegap. 

"Iya, kata Om Ridwan dia kerja di pabrik gitu dan udah lama kerjanya. Terus mau nyari calon istri, dan katanya juga dia sudah dewasa Mir," Bapak menjelaskan dengan semangat. 

Sontak membuat keningku mengkerut.

"Bapak ke rumah Om Ridwan cuma mau minta tolong ke Om Ridwan, nyariin jodoh buat Mira?" tanyaku dengan perasaan yang sedikit kesal. 

Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kesal dihatiku. Mungkin efek dari rasa lelah karena seharian bekerja, ditambah lagi Bapak mengatakan hal yang tidak aku sukai. Entah mengapa, aku merasa harga diriku jatuh ketika Bapak bilang ada jodoh untukku, apalagi itu dari Om Ridwan.

Om Ridwan memang adik dari Bapak, namun sikapnya kadang membuatku merasa kesal. Aku merasa Om Ridwan terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadiku, entah karena rasa perduli sebagai paman atau karena hal lain, tapi sikapnya yang terkesan memaksa melalui Bapak, membuatku kurang nyaman pada adik bungsu Bapak itu. 

"Ehh, dengerin dulu Mir, Bapak itu tadi pagi ke rumah Pak Sanusi, buat ngomongin tanahnya yang mau dijual. Pas pulang ketemu sama Om Ridwan, terus Om Ridwan ngajakin Bapak ke rumahnya. Ya sudah, Bapak mampir ke sana sekalian istirahat sebentar, terus ngobrol-ngobrol biasa, ngobrol soal kamu, soal Rena. Terus Om Ridwan bilang, katanya keponakan temennya ada yang lagi nyari calon istri," Bapak menjawab dengan nada seakan membujukku dengan halus. 

Aku menghela lagi nafasku dulu. Bapak memang selalu mendesakku untuk segera menikah, beberapa kali Bapak juga selalu menjodohkanku dengan laki-laki pilihannya. Namun, aku kurang menyukai pria-pria itu, bukan aku ingin menjadi pemilih atau pun merasa lebih baik hingga aku berani menolak pria-pria itu. Namun kenyataanya, pria-pria yang aku temui itu, sangat minim etika dan buruk sikap, jangankan untuk dijadikan suami, untuk mengobrol pun rasanya tidak nyaman. 

"Emang siapa sih Pak orangnya?" tanyaku mencoba untuk tetap tenang. 

"Dia itu keponakan temennya Om Ridwan, dia katanya kerja sama ngontrak di sini. Om Ridwan juga pernah ketemu sama ngobrol juga sama dia,” 

"Terus maksudnya, Bapak mau ngejodohin Mira sama dia?" 

"Ya kamu ketemu aja dulu Mir, ngobrol, siapa tau cocok. Dia katanya lagi nyari calon istri, berarti kan udah siap Mir. Kamu coba dulu aja ketemu, terus ngobrol-ngobrol dulu," ucapan Bapak seakan memberi dukungan. 

"Ya udah deh, terserah Bapak," ucapku karena sudah merasa lelah. 

"Berarti kamu mau yah, nanti Bapak bilangin sama Om Ridwan," 

"Emang Bapak udah tau orangnya kayak gimana?"

"Ya belum, tapi kata Om Ridwan kalo kamu mau ketemu sama dia, nanti besok pulang kerja dia langsung ke sini buat ketemu sama kamu," jawab Bapak. 

Lihat selengkapnya