Aku berada di kamar ku, aku menyimpan buku novelku yang baru saja ku baca di nakas. Suara jangkrik yang khas seolah mengantarkanku untuk tidur. Namun baru saja aku menarik selimut, pintu kamarku tiba-tiba diketuk.
Tok tok tok.
“Mir..!” terdengar suara Bapak memanggil. Aku pun bangun untuk membukanya.
“Iya, Pak?” sahutku.
“Mir, itu ada Om Ridwan di depan,” ucap Bapak bersemangat.
“Om Ridwan?” tanyaku mengeryit.
“Iya. Itu Om Ridwan bawa laki-laki yang mau dikenalin ke kamu. Sekarang orangnya ada di depan, kamu samperin sana,” perintah Bapak.
“Hah?” seruku terkejut. Dahiku masih berkerut antara terkejut sekaligus juga bingung.
“Iya, kan tadi sore kamu udah setuju katanya. Itu orangnya datang, udah kamu samperin sana,” perintah Bapak lagi.
“Tapi ini kan udah malem Pak, ini udah jam berapa,” seruku lagi.
“Udah, kamu jangan kebanyakan alesan, pokoknya kamu siap-siap, samperin ke depan. Orangnya udah datang ke sini, masa mau dianggurin,” decak Bapak dengan nada sedikit kesal.
Aku menghela nafasku dulu, entah apa yang aku rasakan, hatiku merasa tak enak. Aku sama sekali tidak pernah menyukai situasi seperti ini. Aku lalu terpaksa bersiap, memakai kerudung lalu menemui pemuda itu.
“Om,” ucapku lalu menyelami tangan adik bungsu Bapak itu.
“Mir,”
Aku pun tersenyum kecil pada pemuda yang dibawa oleh Om Ridwan.
“Mir, kenalin, ini namanya Aris. Aris, ini Mira, keponakan Om. Kalian ngobrol aja yah, Om mau ngobrol sama Bapak soalnya,” tutur Om Ridwan.
Bapak dan Om Ridwan lalu meninggalkanku dengan pemuda itu. Pemuda yang menurutku lumayan sedikit gemuk dengan tinggi badan sekitar 165 cm lalu berat badan sekitar 85 kg. Memakai kaos berwarna putih, terlihat ketat dan sempit dibagian lengan dan perutnya, serta nampak seperti kaos dalam. Perutnya yang terlihat buncit menonjol, dan memakai celana jeans model pensil yang juga ketat ke bawah serta wajahnya yang tampak berkeringat.
“Silahkan duduk Mas,” ucapku.
Aku dan pemuda itu duduk di teras depan rumah.
"Mira yah, namanya?" tanyanya.
"Iya,” jawabku.
"Oh iya, manggilnya jangan pake Mas dong. Kalo langsung nama aja gimana? Biar lebih akrab," ujarnya.
Aku menghela nafasku pelan.
"Maaf Mas, saya ga terbiasa manggil orang dengan sebutan nama langsung," balasku.
"Oh gitu, ya udah lah," ucapnya seakan setuju.
"Oh iya, Masnya mau minum apa?" tanyaku.
“Emm, ga usah repot-repot,” jawabnya sungkan.
"Ga apa-apa. Mau kopi, teh?" tanyaku lagi. Meskipun aku tidak menyukai kedatangannya, tapi ia tetaplah tamu di rumahku. Sudah sewajarnya aku menawarkan hidangan meskipun hanya berupa minuman.
“Kopi boleh deh,” sahutnya.
"Sebentar,”
Aku pergi ke dapur untuk membuatkan kopi, setelah itu membawakannya untuk pemuda itu.
"Ini kopinya, silahkan,” aku meletakkan secangkir kopi di atas meja yang menjadi jarak antaraku dan dia.
"Makasih yah," ucapnya lalu langsung menengguknya.
“Masnya kenal di mana sama Om Ridwan?” tanyaku membuka topik.
Aku memang pendiam, tak banyak yang aku lakukan selain bekerja dan bersih-bersih rumah. Tapi aku cukup tau bagaimana menghargai orang yang tengah mengobrol denganku.