Sore hari.
Aku baru saja selesai ibadah salat ashar, ku rapikan mukena dan sajadahku. Lalu terdengar suara motor di depan rumah, aku pun sontak menoleh ke arah jendela.
"Ayo sayang, masuk dulu. Aku bikinin minum yah," ajak Rena dengan gaya manjanya.
Ternyata Rena dan Rendi baru saja pulang.
"Ren," sapa Bapak menghampiri.
"Pak," balas Rendi lalu menyelami tangan Bapak.
"Habis main?" tanya Bapak.
"Iya Pak, jalan-jalan. Mumpung lagi libur," jawab Rendi.
"Ya udah kamu duduk dulu yah. Aku buatin minuman," ujar Rena.
Rendi pun duduk di ruang tamu lalu disusul Bapak.
"Ren, gimana kerjaan, lancar?" tanya Bapak.
"Alhamdulillah Pak, lancar. Semua lancar-lancar aja," jawab Rendi dengan nafasnya yang sedikit berat dan nampak lelah.
“Ren, sebenernya.. ada yang mau Bapak tanyain sama kamu,” ucap Bapak ragu.
“Soal apa, Pak?” tanya Rendi.
Bapak mendesah perlahan seraya mengatur cara duduknya.
"Jadi begini Ren. Kamu sama Rena kan sudah lama hubungannya. Apa… kamu belum mau ngajak Rena ke arah yang lebih serius lagi?" tanya Bapak.
"Maksud, Bapak?" balas Rendi sedikit mengeryit.
Rena lalu datang membawakan segelas air putih dingin.
"Ya setiap orang kan pasti punya tujuan, kamu sama Rena juga pasti punya tujuan kan, kenapa kalian mau memutuskan bertunangan? Maksud Bapak, apa ga sebaiknya kalian menikah saja, toh hubungan kalian juga sudah lama, jadi mau nunggu apa lagi?” lanjut Bapak.
"Bapak apaan sih, Pak. Belum juga lama Bapaknya Rendi ke sini buat ngiket Rena. Lagian kan Bapak yang bilang sendiri, Bapak maunya Mbak Mira dulu yang menikah baru Rena, kenapa sekarang Bapak ngomong kayak gini?” sahut Rena.
"Justru itu, Bapak juga sebenarnya kepengennya Mbak kamu duluan yang menikah, karena kan dia kakak kamu. Tapi kalo diliat lagi, kalo nungguin Mbak Mira dulu, nanti kalian juga ikut lama nikahnya. Mbak Mira udah bilang sama Bapak, katanya dia sudah ikhlas kalo kalian mau ngelangkahin dia," jelas Bapak.
"Bapak emang ga takut, kalo Mbak Mira nanti lebih lama lagi dapet jodohnya karena dilangkahi?" Sahut Rena lagi.
Bapak nampak menghela nafasnya kasar seraya menoleh ke bawah.
"Yaa… mau gimana lagi Ren. Lagian kamu mau nungguin Mbak Mira sampai kapan? Mbak Mira aja belum punya pacar. Mending kalian dulu aja yang menikah, yang sama-sama sudah siap," balas Bapak.