Gedung kantor yang berdiri tegak di tepi jalan, sedikit menjulang dengan kesan kokoh dan rapi. Aku masuk ke dalam gedung itu, lalu berjalan ke meja kerjaku.
“Mir, baru dateng?” sapa Meyra dengan ramah.
“Iya,” jawabku sambil duduk di meja kerjaku.
“Hai, Mir,” sapa Rini. Aku hanya merespons dengan tersenyum seperti biasanya.
Rini yang tengah membawa segelas air di tangannya menghampiriku dan Meyra, tempat duduk ku dan Meyra memang dekat, hanya berjarak selangkah kaki saja. Sementara Rini berada di barisan pojok.
“Oh iya si Seila belum dateng, yah?” tanya Rini seraya mengedarkan matanya.
“Paling telat lagi, dia,” sahut Meyra.
Meyra adalah gadis muda yang terbilang pintar, umurnya baru menginjak 23 tahun, dia amat rajin dan disiplin. Meyra merupakan salah satu mahasiswa terbaik karena memiliki IPK yang cukup tinggi.
“Iya, si Seila kenapa yah akhir-akhir ini kok sering telat?” balas Rini.
“Paling abis video call sama pacarnya sampe tengah malem. Semenjak punya pacar, dia jadi bucin, lebih fokus sibuk sama pacarnya,” cetus Meyra yang terlihat kesal.
“Ya namanya juga lagi pacaran, atau mungkin pacarnya udah mau serius,” sahut Rini.
“Ya bagus dong, mudah-mudahan aja benar. Jadi si Seila ga galau terus tuh, gara-gara nunggu kepastian,” timpal Meyra.
Aku dan teman-teman kerjaku memang kerap kali mengobrol seperti ini. Apa pun bisa menjadi topik, apalagi jika berhubungan dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi, meskipun terkadang aku juga merasa muak mendengarnya.
“Ehh, kalo kamu Mir, udah ada yang serius belum?” lontar Rini.
Aku tersenyum kecil.
“Belum,” jawabku seraya menatap komputer di depanku.
“Kamunya kali Mir, yang suka pilih-pilih makanya belum ada,” sindir Rini.
Lagi-lagi aku hanya meresponnya dengan tersenyum.
“Oh iya Mir, aku dengar-dengar juga, katanya si Rena udah tunangan yah sama pacarnya?” tanya Rini.
Deg, aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Rini, dan membuatku langsung menoleh padanya.
“Hah? Rena… adik kamu, Mir?” sahut Meyra
“Iya,” timpal Rini.
“Dia udah tunangan?” tanya Meyra terkejut.
“Iya, aku dengar dari Ibu. Kemarin kan aku ke rumah Ibu, terus Ibu cerita katanya di gang rumahnya Mira lagi rame soal Rena abis tunangan sama pacarnya,” jawab Rini lalu menengguk minumannya.
Aku hanya bisa menunduk sekaligus menghela nafas. Sebelumnya, Rini memang tetanggaku, namun dia sudah pindah rumah ketika sudah menikah dan Ibunya Rini memang aktif di masyarakat karena sering mengajak arisan para Ibu-Ibu.
“Wah Mir, kalo udah tunangan gitu, berarti bentar lagi nikah dong?” tanya Meyra.
“Ya iya dong, kan biasanya emang gitu, kalo udah tunangan ya nikah, apalagi?” lontar Rini lalu meminum lagi.
“Berarti kamu nanti dilangkahi dong, Mir?” tanya Meyra lagi. Ekspresi wajahnya nampak seperti cemas atau mungkin juga masih terkejut.
Aku hanya tersenyum kecil setiap kali ada orang yang bertanya seperti itu, sekaligus juga untuk menghibur hatiku agar tidak terlihat sedih.