Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #8

Chapter 8

Aku sudah tiba di tempat kerjaku.


“Mir, baru dateng?” tanya Meyra dengan ramah. 


“Iya,” jawabku sambil duduk di meja kerjaku.


“Mir,” sapa Rini. Aku hanya merespons dengan tersenyum seperti biasanya.


Rini yang tengah membawa segelas air ditangannya menghampiriku dan Meyra, tempat dudukku dan Meyra memang dekat, hanya berjarak selangkah kaki saja. Sementara Rini berada dibarisan pojok.


“Oh iya si Seila belum dateng yah?” tanya Rini seraya mengedarkan matanya.


“Belum, paling telat lagi,” sahut Meyra. 


Meyra adalah gadis muda yang terbilang pintar, umurnya baru menginjak 23 tahun, dia amat rajin dan disiplin. Meyra merupakan salah satu mahasiswa terbaik karena memiliki IPK yang cukup tinggi.


“Iya, si Seila kenapa yah akhir-akhir ini kok sering telat?” tanya Rini lagi.


“Paling abis video call sama pacarnya sampe tengah malem. Semenjak punya pacar, dia jadi bucin, lebih fokus sibuk sama pacarnya,” cetus Meyra yang terlihat kesal. 


“Ya namanya juga lagi pacaran, atau mungkin pacarnya udah mau serius,” balas Rini. 


“Ya mudah-mudahan aja. Jadi si Seila ga galau terus gara-gara nunggu kepastian,” sahut Meyra



Aku dan teman-teman kerjaku memang kadang sering mengobrol seperti ini, apa pun bisa menjadi topik kita, apalagi jika berhubungan dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi, meskipun terkadang kerap kali aku merasa muak mendengarnya. 


“Ehh kalo kamu Mir, udah ada yang serius belum?” tanya Rini.


“Emmm, belum,” jawabku seraya menatap komputer di depanku.


“Kamunya kali Mir, yang suka pilih-pilih makanya belum ada,” sindir Rini.


Aku hanya meresponsnya dengan tersenyum.


“Oh iya Mir, aku denger-denger, katanya si Rena udah tunangan yah?” tanya Rini.


Deg, aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Rini, dan membuatku langsung menoleh padanya. 


“Hah? Tunangan?” tanya Meyra terkejut.


“Iya, aku denger dari Ibu. Kemarin kan aku ke rumah Ibu, terus Ibu cerita katanya di gang rumahnya Mira lagi rame soal Rena abis tunangan sama pacarnya,” jawab Rini lalu menengguk minumannya.


Aku hanya bisa menunduk dan menghela napas. Sebelumnya, Rini ini memang tetanggaku, namun dia sudah pindah rumah ketika sudah menikah dan Ibunya Rini memang aktif di masyarakat karena sering mengajak arisan para Ibu-Ibu.


“Wah Mir, kalo udah tunangan berarti bentar lagi nikah dong?” tanya Meyra.


“Ya iya dong, kan biasanya emang gitu, kalo udah tunangan ya nikah,” lontar Rini lalu meminum lagi.


“Berarti kamu nanti dilangkahin dong Mir?” tanya Meyra.


Aku hanya tersenyum kecil, setiap orang yang bertanya seperti itu, sekaligus untuk menghibur hatiku agar tidak terlihat sedih.


“Ya… mungkin,” jawabku tersenyum yang terkesan menghibur diri. 


“Kamu ga mau nyari pacar, Mir?” tanya Meyra.


Lihat selengkapnya