Pagi menjelang perlahan membuka tirainya, bukan hanya sekedar pergantian waktu, tetapi juga harapan yang seolah kembali lahir.
Tok, tok, tok.
“Assalamualaikum,” terdengar suara seorang perempuan di depan pintu.
Aku yang hendak masuk ke kamar langsung menoleh.
“Waalaikumsalam,” jawabku sambil gegas berjalan membuka pintu.
“Ehh, Mir,” ucap Bu Santi yang datang ke rumah.
“Bu Santi,” ucapku.
Aku lalu menyelaminya.
“Ada apa yah, Bu? Tumben pagi-pagi ke rumah?” tanyaku.
“Iya. Ibu mau ketemu sama Bapak, ada perlu,” jawabnya.
“Oh, gitu. Kalau gitu, mari Bu masuk dulu,” ajakku.
Bu Santi masuk ke dalam lalu duduk di ruang tamu.
“lbu mau minum apa?” tanyaku.
“Ga usah repot-repot, Mir,” jawabnya.
“Ga repot kok Bu, kalo air putih gimana? Soalnya adanya cuma air putih,” tanyaku lagi dengan sungkan.
“Ya udah, terserah Mira aja,” jawabnya dengan ramah.
“Sebentar ya Bu,”
Bu Santi hanya mengangguk.
Tak lama aku menghampiri Bu Santi lagi untuk memberikan minuman.
“Ini Bu, diminum dulu,” ucapku.
“Makasih ya, Mir,” ucapnya.
“Sebentar ya Bu, Mira panggilin Bapak dulu,”
“Iya,”
Aku pun ke kamar Bapak, namun ternyata Bapak tidak ada, kamarnya nampak kosong. Aku lalu ke belakang, mungkin saja Bapak di kamar mandi, namun di kamar mandi pun juga tidak ada.
“Bapak kemana?” batinku.
Tok, tok, tok.
“Ren…!” aku mengetuk pintu kamar Rena, namun tak ada sahutan apapun.
Karena tak ada jawaban, aku langsung membuka pintu kamar Rena. Seperti biasa, Rena tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
Aku melihat Rena masih terkapar di kasurnya.
“Ren, kamu belum bangun?” tanyaku.
Aku mendekati adik bungsuku itu.
“Ren,” bujukku seraya menyentuh kaki Rena.
“Aduuh Mbak, apaan sih. Ngapain sih Mbak, aku masih ngantuk,” desah Rena yang masih memejamkan matanya.
“Ini udah jam berapa Ren, kok kamu belum bangun sih?” seruku.
Seperti biasa, Rena tidak mau mendengarkanku. Ia lebih memilih tetap tidur. Aku menghela nafas sejenak.