Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #9

Chapter 9

Keesokan harinya. 



“Assalamualaikum,” ucap seorang perempuan lalu mengetuk pintu rumah.


“Walaikumsalam,” jawabku sambil gegas membuka pintu.


“Ehh Mir,” ucap Bu Santi yang datang ke rumah 


“Bu Santi,” ucapku lalu mencium tangannya.


“Ada apa yah Bu? Tumben pagi-pagi ke rumah?” tanyaku.


“Ibu mau ketemu sama Bapak, ada perlu,” jawabnya.


“Oh gitu, mari Bu masuk dulu,” ajakku.


Bu Santi masuk ke dalam lalu duduk di ruang tamu.


“lbu mau minum apa?” tanyaku.


“Ga usah repot-repot Mir,” jawabnya.


“Ga repot kok Bu, kalo air putih gimana? Soalnya adanya cuma air putih,” tanyaku lagi.


“Ya udah, terserah Mira aja,” jawab Bu Santi dengan ramah.


“Sebentar ya Bu,”


Bu Santi hanya mengangguk. 


Tak lama aku menghampiri Bu Santi lagi untuk memberikan minuman.


“Ini Bu, diminum dulu,” ucapku. 


“Makasih ya, Mir,” ucap Bu Santi.


“Sebentar ya Bu, Mira panggilin Bapak dulu,” 


“Iya,”


Aku ke kamar Bapak, dan ternyata tidak ada Bapak, kamarnya terlihat kosong. Aku lalu ke bekalang, mungkin Bapak di kamar mandi, namun di kamar mandi pun juga tidak ada.


“Bapak kemana?” pikir batinku.


Tok, tok, tok.


“Ren,” aku mengetuk pintu kamar Rena, namun tak ada jawaban.


Karena tak ada jawaban, aku langsung membuka pintu kamar Rena. Seperti biasa, Rena tidak pernah mengunci pintu kamarnya. 



Aku melihat Rena masih terkapar di kasurnya.


“Ren, kamu belum bangun?” 


Aku mendekati adik bungsuku itu.


“Ren,” bujukku seraya menyentuh kaki Rena.


“Aduuh Mbak, apaan sih. Ngapain sih Mbak, aku masih ngantuk,” desah Rena yang masih memejamkan matanya.


“Ini udah jam berapa Ren, kok kamu belum bangun sih?” 


Seperti biasa, Rena tidak mau mendengarkanku. Ia lebih memilih tetap tidur. Aku menghela nafasku sejenak.


“Ren, Bapak kok ga ada di kamarnya? Bapak kemana yah?” 


“Ren…!” sungutku, karena Rena tak mau membuka matanya.


Lihat selengkapnya