Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #9

Bertemu Pak Kamil

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, lalu dinaikan lagi ketika jalanan terasa sepi. Aku melihat, mobil yang kutumpangi masuk ke sebuah pedesaan dengan jalan yang cukup sempit, sebuah desa dengan dikelilingi penampakan sawah yang hijau dan juga segar. Namun entah kenapa perasaanku justru semakin tidak enak, setelah satu jam lebih, mobil pun lalu berhenti di sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas. 

"Ini rumah siapa, Mbak?" tanyaku seraya melihat rumah itu.

Mbak Ratih tak menjawab, ia justru seperti tengah menikmati pemandangan di sekitar rumah itu. 

"Ayok turun, kita sudah sampai," ajak Bu Santi. 

"Maaf Bu, ini rumah siapa yah? Kita mau ngapain kesini?” tanyaku.

“Udah, kita masuk aja dulu. Nanti juga kamu tau,” jawab Bu santi.

“Ayo Mir, kita turun,” ajak Mbak Ratih semangat. 

“Assalamualaikum,” ucap Bu Santi.

“Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakattuh,” jawab seorang laki-laki dari dalam.

Laki-laki itu pun menghampiri. Seorang laki-laki paruh baya, ia terlihat tidak terlalu tua dan tidak muda juga, usianya berkisar kurang lebih 45 tahun menggunakan baju koko, celana panjang dan juga peci di kepalanya, penampilannya persis seperti seorang ustad. Pria itu menyapa dengan hangat. 

“Bu Santi, akhirnya nyampe juga. Ayo masuk, masuk, masuk. Silahkan duduk,” ucap laki-laki itu dengan ramah.

Aku, Bu Santi dan Mbak Ratih masuk dan duduk di dalam rumah itu. 

“Gimana perjalanannya? Jauh yah? Di jalan macet?” tanya laki-laki itu seraya duduk bersama kami.

“Lumayan, tapi kalo macet Alhamdulillah enggak,” jawab Bu santi.

“Alhamdulilah. Mau minum apa?” tanya pria itu.

“Ga usah repot-repot, Pak,” jawab Bu Santi.

“Ga repot, tapi cuma ada air putih kemasan kayak gini aja, ga apa-apa yah,” ungkap prianitu.

“Iya, ga apa-apa. Oh iya, ini loh Pak, ini anak-anaknya Pak Yanto. Yang ini namanya Ratih dan ini adiknya, namanya Mira,” ucap Bu Santi memperkenalkan aku dan Mbak Ratih. Aku dan Mbak Ratih hanya tersenyum kecil. 

“Oh, iya. Jadi yang mau diobati berarti yang ini, yah? Mbak Mira?” tanyanya padaku seraya menunjuk dengan jari jempolnya. 

Sontak membuatku tercengang, apa aku tidak salah dengar? Kenapa pria yang di depan ku ini bilang, aku mau diobati? Memangnya aku sakit apa? Aku semakin bingung sekaligus juga cemas, sebenarnya apa yang mau mereka lakukan?

“Iya Pak Kamil. Seperti biasa, Pak Kamil juga pasti sudah tau,” jawab Bu Santi.

“Silahkan, diminum dulu yah, ini juga ada sedikit cemilan kampung sini,” ujar pria yang bernama Kamil itu.

“Maaf Mbak Mira, katanya, Mbak Mira sudah bekerja?” tanya Pak Kamil padaku.

“Iya, Pak. Sudah,” jawabku sedikit ragu.

Lihat selengkapnya