Sesampainya di rumah, Mbak Ratih langsung merebahkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
"Capek juga yah," keluh Mbak Ratih seraya menghela nafasnya.
Aku memandang malas kakak perempuan pertamaku itu karena aku masih merasa kesal padanya.
"Udah pulang?"sahut Bapak dari dalam. Terbesit ada senyum tipis yang mendarat di bibir ayahku itu.
"Udah Pak, capek banget. Pegel lagi, lumayan jauh juga ternyata rumahnya Pak Kamil," jawab Mbak Ratih dengan malas.
"Sekali-kali. Kan ga tiap hari, ini juga demi adik kamu," cetus Bapak.
"Terus gimana, Mir?" tanya Bapak dengan ceria.
"Gimana apanya?" balasku menyeryit.
Selain merasa lelah, aku juga merasa sedikit kecewa dengan sikap Bapak. Diam-diam Bapak meminta bantuan Bu Santi untuk merencanakan hal ini.
"Ya itu, setelah kamu diruqyah, ada perubahan ga?" sambung Bapak.
"Perubahan apa, Pak? Mira biasa aja, lagian Bapak sama Mbak Ratih kenapa pake bohong segala sih, sama Mira? Bapak sama Mbak kan bilangnya cuma nemenin Bu Santi aja ke rumah temannya, taunya Mira malah di ruqyah di sana," keluhku.
"Kalo Bapak jujur, apa kamu mau berangkat?" balas Bapak sembari berjalan untuk duduk.
"Lagian, Bapak ngelakuin ini juga buat kebaikan kamu Mir, biar kamu cepet dapet jodoh, cepet menikah," sambung Bapak.
"Iya Mir. Udah deh, kamu jangan banyak protes lagi, yang penting sekarang kamu itu udah bersih," timpal Mbak Ratih.
"Udah bersih? Emangnya selama ini aku kotor, Mbak?" seruku.
"Ya bukan gitu, tapi jin yang ada di tubuh kamu ini sekarang udah hilang, kan udah di ruqyah tadi sama Pak Kamil," balas Mbak Ratih seraya memajukkan badannya.
Aku menghela napas dalam-dalam dan menelan salivaku sendiri. Aku sendiri masih ragu, apa benar bahwa memang ada jin kiriman orang yang masuk ke tubuhku?
"Sudah, sudah, lebih baik kalian istirahat sekarang,” perintah Bapak.
***
Malam pun akhirnya turun, menyelimuti bumi dengan keheningannya. Aku merasa sangat lelah, setelah selesai sholat Isya aku merasa sangat mengantuk, biasanya sebelum tidur aku selalu membaca novel dulu atau membuka ponselku untuk mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Namun entah mengapa, malam itu aku langsung terlelap.
Malam pun semakin larut, aku terbangun karena suara seekor jangkrik lagi, aku melihat ponselku, waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Lagi-lagi suara jangkrik itu seolah dengan sengaja membangunkanku. Aku bangun, lalu entah mengapa aku langsung teringat kejadian di rumah Pak Kamil. Apa benar ada sesuatu di tubuhku, seperti yang dikatakan Pak Kamil? Aku memutuskan untuk ibadah malam lagi. Selain sholat tahajjud aku pun melakukan sholat taubat, berharap agar dosa-dosaku diampuni, ku tumpahkan semua yang aku rasakan dalam sujud dan doaku.
“Kalo aku tidur lagi aku pasti telat sholat subuhnya,” batinku setelah melihat ponsel.
Setelah sholat malam, aku membuka lagi kitab suciku, kitab yang sering kulantunkan di setiap malam minggu. Entah mengapa, waktu itu aku merasa ada getaran dalam hatiku ketika aku membaca lembar demi lembar ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tak terasa azan subuh pun berkumandang, aku menyudahi membaca dan menutup kitab suciku lalu bersiap untuk melakukan sholat sunnah serta wajib di waktu subuh.
“Ya Allah, apa ini teguran untukku? Rasanya sudah lama aku tidak bangun malam untuk melakukan ibadah, itu pun karena adanya suara jangkrik yang seolah sengaja membangunkanku, dan hanya seminggu sekali pula kulantunkan ayat sucimu. Sekarang, dalam keadaan kalut dan sedihku, tanpa malu aku datang kepadamu. Sungguh, aku merasa tidak tau diri,” lirihku dalam hati.
Tak terasa air mataku berlinang ketika aku menyadari bahwa ternyata aku jauh dari penciptaku. Aku hanya menjalankan ibadah wajib saja lalu fokus untuk urusan duniawiku. Kini aku bertasbih, berharap Allah mengampuni dosa-dosaku.
Pagi pun datang perlahan, hari itu aku bersiap untuk berangkat bekerja. Rasanya tubuhku lemas, mataku juga sedikit sembab karena setelah sholat malam aku memutuskan untuk tak tidur lagi.
Tok tok tok.