Cahaya pagi masuk melalui celah jendela, menemani langkahku yang menghampiri meja kerjaku, kantor pun masih terlihat sepi karena hari masih terlalu pagi. Aku mengambil gawaiku di dalam tas, membuka sosial media yang jarang sekali ku lihat. Dahiku sedikit mengeryit tatkala melihat teman lamaku yang memposting tentang kajian islam.
“Kajian islam?” pikirku, aku seperti familiar dengan kata itu.
Entah kenapa hatiku tergerak begitu melihat postingan temanku itu. Aku lalu menelusuri dan masuk ke akun temanku, lalu ku temukan sebuah potongan video tentang kajian islami. Aku mendengarkan video kajian yang berdurasi pendek itu. Lalu aku teringat, teman kuliahku ini pernah mengajakku untuk mengikuti kajian, namun aku memilih untuk bekerja, entah mengapa, ada rasa penyelesalan dalam diriku. Aku beralih ke aplikasi pesan berwarna hijau, lalu aku mencari kontak teman kuliahku itu.
[“Assalamualaikum Ra,”]
Tak butuhu waktu lama, pesanku pun terkirim. Aku menyimpan ponselku di meja kerjaku, lalu ku mulai untuk menyalakan komputer.
Drrttt…
Meja ku terasa bergetar dan ponselku tiba-tiba menyala, aku langsung menyambar benda pipihku itu.
[“Walaikumsalam warrohmatullahiwabarakatuh. Ada apa, Mir? Tumben chat aku?”] balas teman kampusku itu yang bernama Ira.
Aku sontak tersenyum membaca balasan pesan darinya.
[“Maaf yah Ra kalo aku ganggu, kamu lagi apa Ra?”] tanyaku basa-basi.
[“Ga ganggu sama sekali kok, aku juga lagi santai aja. Ada apa, nih? Heheheh.”] balasnya lagi seakan tau maksudku menghubunginya.
Aku pun memutuskan untuk langsung menelponnya.
“Hallo, Mir,” jawab Ira yang langsung menerima panggilan teleponku.
“Halo, Ra. Apa kabar?” tanyaku.
“Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana?” tanyanya balik.
“Alhamdulillah, aku juga baik. Maaf yah kalo aku ganggu. Oh iya Ra, aku tadi sempet liat postingan kamu di sosial media, yang video tentang kajian. Kamu masih sering ikut kajian, Ra?” tanyaku.
“Oh itu, dulu sih sering Mir. Cuma semenjak aku punya anak, aku jadi jarang ikut kajian, ya maklum lah, soalnya agak ribet anak aku suka rewel. Kenapa kamu nanyain itu, kamu mau kajian juga?” tanyanya.
Aku mengulum senyum dan menunduk seraya menghela nafasku pelan.
“Iya Ra, aku.. mau ikut kajian,” jawabku sedikit ragu. Aku malu karena dulu pernah menolak ajakan Ira untuk pergi kajian.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu mau ikut kajian juga. Semoga istiqomah yah, Insya Allah hidup jadi tambah berkah,” ucap Ira.
Aku sontak tersenyum, seakan merasa tersindir dengan ucapan Ira.
“Iya Ra, amiin,” ucapku.
“Tapi maaf ya Mir, kalo sekarang ini aku ikut kajiannya online di rumah, sambil ngurus anak,” ungkap Ira.
“Oh, gitu ya Ra. Jadi kamu udah ga sering lagi ikut kajian di majelis gitu?” tanyaku.
“Engga Mir, aku kajiannya di rumah aja sekarang, sambil momong anak. Tapi kalo kamu mau ikut kajian, langsung aja dateng ke sana. Oh iya, aku juga punya temen yang sering ikut kajian juga. Kamu janjian aja sama dia, gimana?” saran Ira.
“Oh boleh Ra,” sahutku bersemangat.
“Yaudah nanti aku kirim nomornya yah. Kalo kamu rutin ikut kajian kamu juga nanti punya banyak temen di sana,” sambungnya.
“Iya Ra, makasih ya Ra,” ucapku.
“Iya sama-sama, yaudah aku tutup yah. Kebetulan anak aku bangun, daahh Mir. Assalamualaikum,” ucap Ira.
“Waalaikumsalam,” jawabku.
Tak lama Ira mengirim sebuah kontak bernama Risa.
“Risa?” batinku. Aku menghela nafas lalu meletakkan kembali ponselku di meja kerja.
“Hai, Mir,” sapa Meyra, yang juga Rini yang datang bersama.
“Hai. Tumben datangnya bareng?” tanyaku.
“Tadi kita ketemu di bawah,” jawab Meyra seraya duduk di kursi kerjanya.