Sesampainya di rumah, Mbak Ratih langsung merebahkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
"Capek juga yah," keluh Mbak Ratih seraya menghela nafasnya.
Aku memandang malas Mbak Ratih karena aku masih merasa kesal padanya.
"Udah pulang?" tanya Bapak dari dalam. Terbesit ada senyum tipis yang mendarat di bibir Bapak.
"Udah Pak, capek banget. Pegel lagi, lumayan jauh juga ternyata rumah Kamil," jawab Mbak Ratih dengan nada malasnya.
"Sekali-kali. Kan ga tiap hari, ini juga demi adik kamu," cetus Bapak.
"Terus gimana Mir?" tanya Bapak.
"Gimana apanya, Pak?" tanyaku malas.
Selain merasa lelah, aku juga merasa kecewa dengan sikap Bapak. Diam-diam Bapak meminta bantuan Bu Santi untuk merencanakan hal ini.
"Ya itu, setelah kamu diruqiyah, ada perubahan ga?" sambung Bapak.
"Perubahan apa Pak? Mira biasa aja, lagian Bapak sama Mbak Ratih kenapa pake bohong segala sih, sama Mira? Bapak sama Mbak kan bilangnya cuma nemenin Bu Santi aja kw rumah temannya, taunya Mira malah diruqiyah di sana," keluhku.
"Kalo Bapak jujur, apa kamu mau berangkat?" balas Bapak sembari berjalan untuk duduk.
"Lagian, Bapak ngelakuin ini juga buat kebaikan kamu Mir, biar kamu cepet dapet jodoh, cepet menikah," lanjut Bapak.
"Iya Mir. Udah deh, kamu jangan banyak protes lagi, yang penting sekarang kamu itu udah bersih," timpal Mbak Ratih.
"Udah bersih? Emangnya selama ini aku kotor Mbak?" seruku.
"Ya bukan gitu, tapi jin yang ada tubuh kamu ini sekarang udah ilang, kan udah diruqiyah tadi sama Pak Kamil," balas Mbak Ratih.
Aku menghela napas dalam-dalam dan menelan salivaku sendir. Aku sendiri masih ragu, apa benar bahwa memanh ada jin kiriman orang yang masuk ke tubuhku?