Keesokan harinya, aku tengah bersiap untuk berangkat ke kajian, seperti yang sudah ku jadwalnya sebelumnya dengan Risa. Aku memilih baju gamis berwarna kuning kunyit dan kerudung yang senada berwarna kuning juga namun bermotif. Ini adalah kali pertamanya aku mengikuti kajian, aku kembali merasakan sesal di hati karena dulu pernah menolak ajakan Ira untuk mengikuti kajian itu. Seharusnya dulu aku tidak terlalu fokus mengejar duniaku, tapi kini aku seakan tersadar bahwa ilmu akherat sangatlah penting untuk keberlangsungan hidupku. Aku melihat diriku di pantulan cermin, merapikan kerudungku dan memastikan bahwa kerudungku sudah menutupi sebagian tubuhku, agar aku bisa merasa nyaman dan juga leluasa saat mengikuti kajian nanti.
Setelah siap aku keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi.
“Mbak, mau ke mana Mbak? Rapi banget?” tanya Rena yang tiba-tiba menghampiri, ia melihat penampilanku dari atas kepala hingga bawah kakiku.
“Mbak mau keluar Ren, Mbak ada janji sama temen Mbak,” jawabku seraya menarik tas ke atas lenganku.
“Keluar sama Mbak Rini, sama Mbak Meyra?” tanya Rena menebak.
Rena memang tau bagaimana kedekatan dan keakraban ku dengan Rini dan Meyra. Kedua teman kerjaku itu memang beberapa kali pernah berkunjung ke rumah, Rena yang memang ramah dan ceria kerap kali mengobrol dengan mereka, dan ditambah lagi Rini merupakan mantan tetanggaku, meskipun rumah kita sedikit jauh, namun kini Rini sudah pindah dan memutuskan tinggal di rumah mertuanya.
“Bukan, Mbak mau keluar sama temen Mbak yang lain,” jawabku.
“Emang Mbak punya temen yang lain?” celetuk Rena.
Aku langsung menoleh dan sedikit mengeryit.
“Ya punya lah Ren. Dari Sd sampai Mbak kuliah Alhamdulillah, Mbak masih berhubungan baik sama temen-temen Mbak. Oh iya, Bapak mana? Mbak mau pamitan dulu sama Bapak,” balasku
“Bapak kayaknya masih di kamar mandi deh,” jawab Rena seraya menoleh ke belakang.
“Ya udah, nanti kamu bilangin aja yah sama Bapak kalo Mbak pergi keluar,” pesanku.
“Iya Mbak, nanti kalo Bapak nanya aku bilangin,” balas Rena.
“Yaudah, Mbak berangkat dulu yah,” ucapku.
“Mira..! Udah rapi aja, mau ke mana?” teriak Bu Feni.
“Mau pergi Bu Feni, saya duluan yah,” jawabku dan langsung melengos pergi. Terlihat di ekor mataku, mimik wajah Bu Feni langsung berubah kesal.
Memang Bu Feni terkenal kepo dengan urusan orang lain. Aku sudah malas sekali mendengar ucapan atau pun pertanyaannya yang terkesan selalu menyindir dan mencibirku. Hidup di pedesaan memang penuh dengan omongan yang tidak selalu enak, aku sangat terlatih mendengar ucapan dari para tetanggaku, yang kadang kali kerap mengganggu pikiran dan hatiku.