Malam hari.
Aku tengah makan di meja makan.
“Mir … !” terdengar suara Mbak Rita memanggil dari arah depan.
“Mir, kamu lagi makan?” tanyanya.
“Iya. Kenapa Mbak?” jawabku.
“Mir, Mbak pinjem baju gamis kamu yah, yang warna kuning itu loh, besok Mbak mau ada arisan,” ujar Mbak Rita.
“Yaudah, Mbak ambil aja di lemari aku. Lemari gantung ya Mbak,” ucapku.
“Oke. Oh iya, sama kerudungnya juga ya Mir. Biar kece,” lanjut Mbak Rita.
Aku sedikit mengangguk.
Mbak Rita masuk ke kamarku untuk mengambil baju yang ia inginkan. Seperti biasa, kamarku selalu dijadiikan toko oleh saudara-saudaraku setiap kali mereka butuh.
Mbak Rita adalah kakak perempuan keduaku, usianya baru 30 tahun. Mbak Rita juga tinggal di rumah Bapak namun sudah disekat, rumah Bapak memang tergolong cukup besar, Mbak Rita menyekat 2 kamar ditambah ada sedikit sisa tanah Bapak yang tak terpakai, lalu direnovasi untuk dijadikan rumah minimalisnya.
"Mir, Mbak pulang yah. Gamis sama kerudungnya Mbak pinjem dulu,” ujar Mbak Rita.
"Iya, Mbak,” balasku.
Aku meletakkan bekas piring makan ku di wastafel, lalu mencuci tangan, setelah itu aku langsung ke kamar. Namum sampainya di kamar, aku terkejut melihat bajuku yang berserakan di kasur dan juga di bawah lemari seperti terjatuh.
"Kok bajunya di sini sih?" tanyaku sendiri.
Aku pun membuka lemari pakaian ku. Betapa terkejutnya, aku melihat lemari pakaianku yang berantakan. Baju yang sudah aku rapikan seketika jadi berantakan.
Lagi-lagi aku harus menarik napasku dalam-dalam. Mbak Rita memang tidak seapik diriku, dia selalu meminjam barangku dan mengambilnya dengan buru-buru. Meskipun lemari ku jadi berantakan ia bahkan tak perduli, yang penting barang yang ia mau bisa ia dapatkan. Aku pun terpaksa harus merapikan kembali pakaianku di lemari.
Aku tak sengaja melihat ponselku menyala. Ku ambil benda pipihku itu, dan ternyata Risa sudah membalas pesanku.
[“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya Mbak, saya juga dapet pesan dari Mbak Ira. Katanya temennya mau ikut kajian. Besok kebetulan ada kajian Mbak, kita janjian di taman anggrek aja ya, jam 10. Nanti kita pergi kajiannya bareng,”] balas Risa.
Sebelum keluar kamar untuk makan malam, aku memang sudah mengirimkan pesan terlebih dulu pada Risa. Berkat Ira, kini aku mempunyai teman baru, teman yang kuharapkan bisa membawaku pada kebaikan, dan mengingatkanku untuk bisa menjadi orang yang lebih baik.