Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #14

Demi Bapak

“Assalamualaikum,” ucapku saat memasuki rumah.

“Waalaikumsalam,” jawab Bapak sedikit ketus.

Bapak, Mbak Ratih dan juga Rena tengah duduk bersama di ruang tamu. Ketiganya menatapku seperti tak biasa, Bapak dan Mbak Ratih nampak tengah kesal, keduanya seolah sengaja membuang wajahnya setelah menatapku sejenak dengan tatapan yang sedikit nanar. Sementara Rena memilih mengalihkan dengan memainkan gawainya. Aku merasa heran dan berpikir, ada apa lagi ini?

“Mir, sini,” perintah Bapak. 

“Iya, Pak?” tanyaku lalu duduk

Aku masih merasa heran, namun sepertinya memang ada sesuatu. 

“Kamu tuh maunya apa, sih? Apa kamu ga punya niat buat menikah?” tanya Bapak tanpa basa-basi seakan tengah menyerangku.

“Maksud Bapak apa, Pak?” tanyaku mengeryit.

Aku menoleh ke Mbak Ratih, Kakak sulungku itu seolah sengaja membuang wajahnya lagi. Aku jadi teringat dengan ucapan Mbak Ratih semalam. Aku menghela nafas pelan dan aku bisa menebak apa yang akan Bapak bicarakan padaku.

“Kamu kenapa ga mau dikenalin sama anak temennya Bu Santi?” seru Bapak.

Aku menghela nafas ku lagi. Sesuai dugaanku, Bapak pasti akan membahas itu.

“Bukannya gitu Pak. Mira cuma…,” jawabku menjeda.

Sungguh aku tidak tau harus menjawab apa.

“Mir, kamu itu belum ketemu sama si Rama, tapi kamu udah jual mahal kayak gini aja,” celetuk Mbak Ratih.

“Jual mahal apa sih, Mbak,” resahku.

Rasanya baru saja aku mendapatkan energi pencerahan dari kajian itu. Tapi sepulangnya, emosiku langsung dilatih lagi. 

“Mir, kamu kan belum ketemu sama si Rama, kamu juga belum tau dia seperti apa orangnya, kenapa harus langsung ditolak? Pake pura-pura pergi keluar segala lagi. Bapak udah capek.. sama kamu Mir,” keluh Bapak.

“Pura-pura pergi gimana sih, Pak? Mira tadi ikut kajian Pak, diajak sama temen Mira. Lagian Mira udah bilang sama Mbak Ratih semalam, kalo hari ini Mira ada janji sama temen Mira mau keluar,” jelasku.

“Alah. Paling itu cuma alasan kamu aja. Emang sejak kapan kamu suka ikut kajian kayak gitu? Bilangnya ikut kajian, paling kamu pergi nongkrong kan, sama temen-temen kamu, makan di cafe,” cecar Mbak Ratih.

Aku hanya bisa diam seraya mengatur nafas.

“Mir, Bapak ga tau mesti ngomong kayak gimana lagi sama kamu. Bapak bener-bener udah capek, Bapak ini udah tua Mir. Bapak cuma pengen ngeliat anak-anak Bapak menikah,” keluh Bapak lagi.

“Kamu tuh ga kasian yah Mir, sama Bapak? Bapak udah mohon-mohon kayak gini, kamu masih aja ngeyel,” seru Mbak Ratih.

Aku menarik nafas dalam seraya menelan salivaku.

Lihat selengkapnya