Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #16

Drama perihal jodoh

Hari-hari selanjutnya seperti biasanya, sebelum pergi bekerja aku membersihkan rumah terlebih dulu, setelah itu barulah bersiap untuk berangkat. Kini aku juga sering mendengar kajian online lewat gawaiku. Malam hari, aku selalu menyempatkan waktu untuk mendengarkan ceramah-ceramah para ustads di aplikasi video. Aku pun semakin bersemangat untuk belajar lebih tentang agama. Kadang, dari hasil kajian-kajian yang aku dengarkan, aku menulisnya di buku agar aku lebih mudah mengingat dan membacanya kembali. Aku semakin tertarik dan semangat untuk mengikuti kajian online maupun datang langsung ke tempat kajiannya. Aku harus mengakui, bahwa semenjak aku rutin ikut kajian, aku merasa jadi jauh lebih sabar dan lebih tenang. Aku juga merasa hati dan jiwaku jauh lebih damai dan aku jadi tidak mudah kalut dan gelisah seperti sebelum aku rutin mengikuti kajian.

Aku membersihkan rumah, mulai dari nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, dan juga memasak.

“Mir …!” Mbak Ratih tiba-tiba menghampiriku.

“Iya, Mbak?” tanyaku seraya menoleh.

“Kamu lagi nyuci?” tanyanya sambil melihat ke dalam mesin cuci yang penuh dengan busa sabun. 

“Iya, Mbak,” jawabku seraya memasukkan baju ke dalam mesin cuci.

“Masih lama yah, Mir? Mbak mau minjem mesin cucinya, Mbak mau nyuci di sini aja, soalnya mesin cuci Mbak masih rusak,” ujarnya

“Loh, emangnya belum dibenerin Mbak?” balasku.

“Belum, kemarin tadinya mau Mbak benerin. Eh, uangnya malah dipake buat beli tas barunya si Revan,” jawabnya. 

Mbak Ratih memang mempunyai anak laki-laki dua, dan kedua anaknya masih bersekolah. Anak pertama Mbak Ratih sudah menginjak SMP dan anak keduanya baru menginjak SD. Sementara suami Mbak Ratih kerja di luar kota, pulang hanya seminggu sekali dan terkadang juga dua minggu sekali, bahkan pernah juga sebulan lebih baru pulang. Mbak Ratih selalu mendesak dan menuntut suaminya agar lebih giat lagi bekerja. Bahkan aku pun pernah mendengar ucapan Mbak Ratih ditelepon, yang mengatakan pada suaminya untuk tidak dulu pulang sebelum membawa sejumlah uang yang diperlukan Mbak Ratih. 

“Tas baru Revan, Mbak? Emang tasnya yang lama kemana Mbak?” sahutku.

“Tasnya robek gara-gara kesangkut kawat. Tau sendiri si Revan gimana. dia mana mau, pake tas robek kayak gitu,” jelasnya.

“Emang robeknya parah Mbak?” tanyaku seraya mendekat ke Mbak Ratih. 

“Engga sih, cuma benangnya aja ada yang ke tarik, tapi kan si Revan begitu anaknya. Dia ngancem ga mau sekolah kalau belum dibeliin tas baru,” jelas Mbak Ratih lagi. 

Lagi-lagi aku hanya menghela nafas ku. Mbak Ratih memang terbiasa memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas, tak peduli keadaanya seperti apa. Mbak Ratih dulu bahkan pernah mati-matian menghemat dan sampai meminjam uang ke Bank hanya untuk membelikan mainan dan fasilitas untuk anaknya. 

“Ya udah, kalo kamu udah beres nyucinya kamu kasih tau Mbak, yah. Mbak mau siapin makanan buat si Revan dulu,” ucapnya. 

“Iya, Mbak,”

Mbak Ratih keluar dan kembali ke rumahnya. Rumah Mbak Ratih memang sangat dekat, tepatnya persis di belakang rumah Bapak. Ada sebidang tanah yang cukup luas milik Bapak, lalu dijadikan dan dibangun rumah oleh Mbak Ratih

***

Malam pun turun lagi menyelimuti langit dengan warna gelap yang terang. Lampu-lampu pun menyala satu persatu seperti bintang yang jatuh ke bumi.  

Tok tok tok. 

Suara pintu kamarku diketuk, aku segera mencabut headset yang ada di telingaku.

"Pak, kenapa?" tanyaku ketika membuka pintu.

Lihat selengkapnya