Matahari terus naik, aktivitas pun semakin hidup. Suara kendaraan, langkah kaki dan percakapan mulai berpadu menjadi irama keseharian.
Aku sudah duduk di meja kerjaku, menatap komputer yang ada di depanku sambil memainkan jari-jemariku di atas keyboard. Lalu tiba-tiba ponselku menyala, aku langsung meraihnya karena takut ada hal penting.
[“Mbak mau ikut kajian lagi, kan? Nanti aku tunggu Mbak di taman anggrek yah seperti biasa”] pesan dari Risa untukku.
Aku tersenyum kecil, entah mengapa aku merasa senang sekali mendapat pesan dari Risa. Risa bukan hanya baik dan ramah, kini dia juga sudah menjadi temanku, teman baruku yang selalu mengajakku untuk kajian, bahkan ia mau menungguku.
***
Sore pun datang dengan cahayanya yang melunak, berubah jadi jingga keemasan yang hangat.
Aku baru saja sampai rumah, membuka sepatu lalu meletakkannya di rak. Langkahku sedikit lunglai, merasa lelah karena di kantor cukup sibuk dengan pekerjaan.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam,” jawab Mbak Ratih.
Aku terpaku sejenak. Terlihat Mbak Ratih tengah duduk di ruang tamu bersama Rena, sepertinya mereka tengah asyik mengobrol.
“Baru pulang, Mir?” tanya Mbak Ratih.
“Iya, Mbak. Aku ke kamar dulu yah,” jawabku lalu melengos.
“Eh Mir,” panggil Mbak Ratih dan berhasil menahan langkahku.
Aku pun sontak menoleh.
“Mir, besok kamu libur kan?” tanyanya.
“Iya. Besok kan weekend, Mbak,” jawabku.
“Nah. Mir, tadi Mbak dapet pesan dari Bu Santi. Katanya besok Bu Santi ngundang kamu ke rumahnya,” sambung Mbak Ratih seraya berdiri dan melangkah mendekatiku.
Aku mengernyitkan dahiku.
“Bu Santi? Ngundang aku ke rumahnya? Emang ada apa, Mbak?" tanyaku.
"Katanya ada acara makan-makan gitu di rumahnya. Bu Santi juga ngundang temen-temennya, rame lah pokoknya. Katanya sih syukuran rumah Bu Santi karena baru di renov, sekalian acara arisan juga," jelas Mbak Ratih.