Siang menggantung di langit seperti waktu yang sedang ditahan. Matahari pun bersinar tanpa ragu, menumpahkan cahaya yang tajam ke setiap sudut.
Setelah salat zuhur aku buru-buru merapikan mukenaku dan gegas ke majelis untuk mengikuti kajian. Kebetulan Masjid tempatku salat dan Majelis tempat kajian merupakan satu gedung dan hanya dibatasi dengan tembok. Begitu aku membuka pintu dan masuk ke dalam Majelis, hampir semua orang yang ada di kajian itu menoleh ke arahku dan melihatku. Ternyata kajian sudah mulai dan tentunya sudah ramai. Sontak aku pun merasa malu dan canggung, terlebih kaum adam pun ikut menoleh dan melihatku. Aku gegas menghambur, menghampiri bagian tempat duduk wanita. Memang tersedia sekat di Majelis itu, sekat yang menggunakan papan pembatas yang tidak begitu tinggi, hanya bertujuan untuk memisahkan antara barisan laki-laki dan perempuan.
“Mbak,” panggil Risa secara berbisik. Aku pun menoleh padanya
“Sini Mbak,” ajaknya.
Dengan gerakan perlahan dan ucapan permisi aku melewati para jemaah perempuan di kajian itu untuk mendekati Risa dan duduk di dekatnya.
“Aku pikir Mbak ga jadi ikut kajian,” bisik Risa.
“Iya, tadi aku ada perlu. Untungnya cuma sebentar sih,” balasku.
“Kalo boleh tau, Mbak habis ke mana emangnya?” tanyanya lagi.
Aku terdiam sejenak seraya menelan salivaku.
“Tadi.. aku diundang buat makan-makan di rumah kerabat, aku ga enak kalo ga dateng,” jawabku.
“Oh,” balas Risa memagut.
Aku tak sengaja menoleh ke samping kananku, terlihat seorang laki-laki yang langsung menunduk begitu aku menoleh. Papan sekat yang membatasi itu hanya sampai di pundak dan leher jamaahnya, sehingga wajah para jamaahnya di kajian itu masih terlihat oleh jamaah yang lainnya. Aku sedikit mengeryit, entah mengapa aku merasa laki-laki itu seperti tengah gugup, ia langsung menyembunyikan wajahnya dengan langsung menunduk. Lalu aku langsung membuka buku catatanku, karena setiap aku mengikuti kajian aku selalu menulisnya agar aku bisa membacanya kembali di rumah.
Setelah kajian selesai, aku dan Risa lanjut salat Ashar. Kebetulan kajian hari itu sedikit lebih lama hingga sampai ashar.
“Mbak, sekarang mau ke mana dulu?” tanya Risa seraya menggendong tasnya.
Tumben sekali Risa menanyakan itu, biasanya dia yang paling ingin buru-buru pulang setelah kajian selesai.
“Kemana yah,” jawabku bingung.
Aku pun melihat jam di tanganku.
“Udah sore Ris, kamu tumben nanyain mau ke mana. Biasanya kamu yang suka pengen cepet-cepet pulang,” balasku.
“Iya Mbak, aku lagi pengen jalan-jalan aja. Mumpung cuacanya juga lagi adem,” jawabnya
“Tapi kita mau ke mana?” tanyaku seraya melihat sekitarku.
“Mbak, kita duduk dulu yuk, di taman itu,” ajaknya sambil menunjuk ke arah taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari Masjid.
“Oh yaudah. Yuk,” jawabku seraya mengangguk.
Aku dan Risa keluar dari Masjid lalu berjalan dan duduk di taman itu. Taman yang mirip seperti taman kanak-kanak dimana ada ayunan dan komedi putar yang terbuat dari besi.
Risaduduk di ayunan itu lalu mengayunkan dirinya sendiri.
“Aku kayak masa kecil kurang bahagia yah Mbak, duduk di sini?” ujar Risa sambil tetap mengayunkan dirinya.
“Engga lah Ris, naik ayunan kan emang enak. Ga cuma anak kecil aja yang suka,” balasku seraya duduk di ayunan sebelah Risa, aku pun ikut mengayunkan diriku namun tidak sekencang Risa.
“Mas…!” panggil Risa pada laki-laki yang tengah berjalan.
Laki-laki itu pun menoleh dan berjalan menghampiri.
“Ya ampun, kayak anak TK aja mainin ayunan kayak gini,” ujarnya.
Seperti yang pernah ku duga, Risa begitu akrab dengan laki-laki itu. Adryan, sosok kaki-laki yang di dalam kajian tadi. Yang langsung menundukkan wajah dan pandangannya begitu aku menoleh tak sengaja padanya. Dengan tinggi badan yang cukup tinggi, sekitar 173 cm dan berat badan yang ideal menurutku, dia tidak gemuk dan tidak juga kurus. Sosok laki-laki dewasa, dia selalu memakai kemeja yang berwarna sedikit gelap setiap kali kajian. Terlihat tubuhnya yang proporsional dan kekar, terdapat juga jenggot yang tipis di bawah dagunya yang menambah aura dan kharismanya
“Yeee, ga apa-apa kali Mas. sekali-kali,” ujar Risa.
“Ya ga apa-apa, silahkan aja. Sekarang puas-puasin aja dulu mainnya, sebelum kamu resmi jadi seorang istri, apalagi kalo nanti langsung dikasih momongan,” ujar Adryan.