Malam turun lagi dengan cahaya gelapnya. Hembusan angin terasa pelan menyentuh tirai jendela.
Aku merapikan mukena serta sajadahku. Seperti biasa, setelah selesai salat isya, aku akan mendengarkan kajian online di ponselku. Namun aku sedikit terkejut begitu menyentuh ponselku yang terasa bergetar, tiba-tiba ada video panggilan masuk. Aku pun mengenail nomor itu, meski belum sempat aku menyimpannya pada kontak ponselku. Ya, nomor itu adalah nomor Rama, nomor yang seakan menghiasi layar ponselku karena kerap kali mengirim pesan tanpa pernah ku balas sekali pun. Jika pesan saja tidak ku balas, apalagi video panggilan. Orang mungkin akan menganggapku sombong dan angkuh, tapi inilah pilihanku, aku tidak ingin membuang waktu ku dengan sesuatu yang sia-sia. Lagipula untuk apa Rama melakukan video panggilan kepadaku? Bukankah dia lebih menyukai perempuan seperti Rena? Aku tidak ingin menjadi ban serepnya, aku memiliki harga diri yang menurutku patut untuk ku perjuangkan, dan jika pun harus memilih, tentu saja aku lebih memilih mendengarkan kajian online seperti biasanya, dibanding membuang waktu untuk merespons video panggilan dari Rama.
Sebuah pesan tiba-tiba saja mendarat.
[“Kamu kenapa sih, Mir? Kenapa ga pernah mau respon chat aku? Video call juga ga diangkat”] pesan Rama.
Nampaknya Rama sudah merasa muak dan kesal karena aku tak merespons apa pun padanya. Mungkin ia juga akan berpikir bahwa aku gadis sombong yang angkuh.
***
Pagi menjelang.
Aku berdiri di depan cermin, menatap wajahku pada pantulan. Aku merapikan baju serta kerudungku, memastikan semuanya terasa aman dan nyaman sebelum bersiap untuk pergi kajian lagi. Ponselku tiba-tiba menyala dan sebuah pesan mendarat. Aku gegas mengambil lalu membacanya, rupanya pesan dari Risa. Seperti biasa, ia selalu memberi kabar. Aku tersenyum kecil lalu memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.
"Pak, Mira pergi dulu yah?" ucapku seraya mengulurkan tangan. Bapak tengah duduk di teras dengan ditemani kopi dan juga gawainya.
"Mau ke mana, Mir?" tanya Bapak seraya memberikan tangannya.
"Mira ada janji sama temen Mira, Pak. Ya udah Mira berangkat ya Pak, takut macet soalnya temen Mira udah berangkat," jawabku setelah mencium tangan Bapak.
"Ya. Hati-hati,” ucap Bapak.
Aku sengaja buru-buru menjawab pertanyaan Bapak. Takut-takut Bapak akan mendadak mengajakku untuk membahas soal Rama lagi. Jika saja Bapak tau, kalo Rama sering mengirimkan pesan dan aku sama sekali tidak pernah meresponsnya, tentu lah aku akan dimarahi habis-habisan. Membayangkannya saja rasanya aku tak sanggup, belum lagi Mbak Ratih juga akan ikut memarahi. Memang, hampir seminggu ini Bapak tidak menanyakan lagi soal Rama, mungkin karena akhir-akhir ini aku sering pulang telat karena harus lembur, belum lagi aku pun juga sengaja selalu di kamar untuk menghindar.
***
Aku sudah berada di taman anggrek, mengedarkan mata, mencari-cari sosok Risa. Biasanya Risa sudah menungguku di bangku taman, namun saat ini ia tak terlihat.
"Ke mana Risa? Apa belum nyampe, yah? Bukannya katanya dia udah berangkat duluan?" batinku bertanya-tanya.
Angin berhembus lembut, menyentuh wajah yang seolah menyapa tanpa kata. Cahaya matahari menyelinap di antara ranting, jatuh membentuk bayangan yang menari di atas tanah.
Aku mengambil ponsel di dalam tas, berharap ada kabar dari Risa.
"Mbak!” ucap Risa yang tiba-tiba datang dan membuatku terkejut.
"Eh. Ris, ya ampun. Kamu ngagetin aja, kamu dari mana? Baru dateng?" cecarku.
"Emm, enggak. Aku tadi di sana," jawabnya seraya menunjuk ke arah belakang taman.
"Ngapain?" tanyaku mengernyit.
"Duduk aja, sambil ngobrol-ngobrol," jawabnya lagi.
"Ngobrol, sama siapa?" tanyaku lagi.
"Emmm. Mana yah orangnya. Oh itu,” jawabnya lalu menunjuk pada laki-laki yang baru saja menoleh dan ternyata dia adalah Adryan. Aku langsung mengerti, pantas saja. Sepertinya, hubungan Risa dan Adryan semakin serius.
Adryan lalu berjalan ke arahku dan Risa. Ia juga seolah menyapaku dengan senyuman kecil seraya menundukkan kepalanya sedikit. Aku pun membalasnya dengan hal yang sama. Tidak ada yang bisa kukatakan selain mendoakan dan berharap kebaikan untuk mereka berdua.
"Ayo kita masuk," ajak Adryan.
"Ayo Mbak, supaya kita dapet tempat duduk paling depan," timpal Risa.
Aku berjalan dengan perlahan. Adryan dan Risa berjalan beriringan namun tetap berjarak, aku melihat mereka dari belakang. Sungguh, mereka terlihat sangat serasi.
Aku mengikuti kajian hari itu. Benar kata Risa, duduk di barisan paling depan memang menyenangkan, lebih fokus dalam mendengar isi kajian.