Seperti biasanya, aku hanya melihat sebentar pesan Rama yang mendarat di ponselku lagi tanpa ingin membuka apalagi membalasnya. Aku langsung menaruh kembali benda pipihku itu di atas meja kerjaku lalu fokus pada layar komputer di depanku.
Hingga kini, aku memang masih tidak ingin mengindahkan pesan Rama, dia juga terus menelpon dan menghubungiku. Bukan aku ingin membencinya, namun aku ingin mengurangi interaksiku pada lawan jenis meskipun itu hanya sebatas pesan mau pun mengobrol melalui ponsel. Apalagi dengan Rama, entah apa yang ada di pikiranku, aku merasa niat Rama kurang tulus. Entah apa tujuannya pun aku tidak tahu, mengingat aku bukanlah tipe perempuan idamannya. Apalagi aku sudah memutuskan untuk menerima ajakan ta'aruf dari Adryan. Rasanya tidak pantas bukan, jika aku merespons laki-laki lain? Lagipula, jika aku harus memilih, tentu saja aku akan lebih memilih Adryan.
"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bapak dengan resah.
Aku berdiri sejenak di ambang pintu, melihat Bapak, Mbak Ratih dan Rena tengah duduk bersama di ruang tamu. Terlihat Mbak Ratih yang seperti sengaja memalingkan wajahnya, mimik wajahnya pun seperti tengah kesal, sementara Bapak menunduk dan terlihat mengendus nafasnya pelan, lalu Rena yang tengah sibuk dengan gawainya meski sesekali menoleh padaku.
Ada apa lagi ini? Sepertinya mereka habis membicarakan sesuatu.
"Pak," aku mengulurkan tanganku untuk mencium punggung tangan Bapak seperti biasanya.
"Jam segini kamu kok baru pulang, Mir?" tanya Bapak.
Aku menghela nafasku dulu.
"Iya Pak, tadi ada kerjaan tambahan, terus di jalan juga kena macet,” jawabku.
Bapak menarik nafasnya sedikit berat.
"Mir, kamu duduk dulu di sini. Bapak mau ngomong,” perintah Bapak seraya menggeser posisi duduknya, memberikan ruang untuk aku duduk.
Aku terdiam sejenak, sepertinya memang ada sesuatu yang akan dibahas. Apa ini soal Rama? Di ruang tamu itu, aku lalu duduk bersama mereka.
"Mir, tadi Bu Santi nelpon Bapak. Katanya, kamu ga pernah bales pesan dari Rama? Apa benar?” cecar Bapak tanpa basa-basi.