Pagi menjelang, seperti biasa aku berangkat bekerja, aku memutuskan untuk berangkat lebih awal agar pekerjaanku bisa cepat selesai, kebetulan beberapa hari ke belakang aku memang cukup disibukkan dengan pekerjaanku. Laporan-laporan harus segera ku kerjakan sesuai permintaan kantor. Meski aku merasa lelah, ditambah semalam aku langsung membuat CV biodataku hingga hampir larut malam dan langsung ku kirimkan pada Adryan. Aku sengaja langsung mengerjakan dan mengirimnya, agar Adryan tahu bahwa aku pun benar-benar serius padanya.
“Pak, Mira berangkat yah,” ucapku seraya mengulurkan tangan meminta tangan Bapak untuk kucium seperti biasanya.
“Tumben Mir, kamu berangkat jam segini?” tanya Bapak dengan sedikit mengernyit.
“Iya, Pak. Takut macet,” jawabku yang tergesa.
“Tunggu dulu Mir. Bapak mau ngobrol dulu sama kamu,” ujar Bapak.
“Bapak mau ngobrol apa, Pak?” tanyaku dengan nada malas. Aku menebak Bapak akan membahas apa kepadaku, ujung-ujungnya pasti soal Rama.
“Cuma sebentar, kamu duduk dulu,” perintah Bapak.
Aku sedikit tertegun seraya menghela nafas, lalu terpaksa duduk bersama Bapak.
“Mir, mungkin menurut kamu Bapak ini tega karena sudah memaksa kamu. Tapi Bapak cuma pengen lihat anak-anak Bapak menikah terus punya suami. Apa kamu ga bisa Mir terima Rama dulu, coba pengenalan, siapa tau cocok,” pinta Bapak. Aku melihat adanya harapan di manik coklat Bapak, dan sesuai dugaanku, Bapak sudah pasti membahas dan memaksaku untuk menerima Rama lagi.
“Tapi kenapa harus Rama, Pak? Jujur, bukan masalah status Rama yang seorang duda, tapi Mira lebih suka sama laki-laki yang mau kerja, meskipun itu dari nol, tapi itu dari usahanya sendiri, bukan malah berlindung di balik warisan orang tuanya,” balasku.
Bapak menunduk dengan nafasnya yang terdengar berat.