Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #27

Drama soal Rama

Pagi hari, aku tengah bersiap untuk berangkat bekerja. Ku masukkan keperluanku ke dalam tas. 

“Assalamualaikum,” terdengar suara perempuan yang datang. Suara itu nampak tak asing.

“Waalaikumsalam,” sahut Bapak. Aku merasa penasaran dan mencoba mengintip lewat jendela kamar. 

“Bu Santi, masuk Bu, masuk,” ajak Bapak.

Benar saja, ternyata itu Bu Santi. Entah mau apa lagi, pagi-pagi sudah datang ke rumah. Aku menghela nafasku dulu seraya mengatur perasaanku, mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Aku berpikir sejenak, berdiam diri di kamar atau keluar untuk pamit berangkat bekerja. Rasanya aku malas sekali jika harus mengobrol dengan Bu Santi meskipun hanya sebentar. Lalu kulihat jam tanganku, rasanya tidak mungkin jika aku menunggu Bu Santi yang entah sampai kapan akan mengobrol dengan Bapak. Aku memutuskan untuk keluar, aku berharap setelah pamit dan mencium tangan Bapak dan tentunya Bu Santi, aku bisa langsung berangkat tanpa diminta untuk ikut mengobrol bersama mereka. 

“Bu Santi,” sapaku dengan ramah.

“Eh, Mira. Udah rapi aja, mau berangkat kerja, yah?” tanyanya.

“Iya, Bu. Pak Mira berangkat dulu yah,” balasku.

“Masih pagi Mir, baru juga jam berapa,” sahut Bu Santi. 

“Mira emang biasa berangkat jam segini Bu, lagian takut macet juga di jalan, ini kan mau weekend. Yaudah, Mira pamit yah,” balasku tanpa dengan tergesa. 

"Kalau kamu takut macet, kenapa ga minta tolong dianterin Rama, aja? Rama pasti mau kok nganterin kamu ke kantor, kan kalo di motor bisa lebih cepat. Iya kan, Mas?" saran Bu Santi seraya merubah posisi duduknya mengarah pada Bapak seolah meminta dukungan atas pendapatnya. 

"Iya Mir, kalo kamu dianterin sama Rama kan bisa lebih cepat nyampenya, ga akan kena macet. Kamu juga bisa lebih hemat," sahut Bapak. 

"Nah, bener tuh. Itung-itung ngirit uang ongkos, kan nanti bisa buat ditabung," timpal Bu Santi. 

Aku menelan salivaku. Tubuhku seolah mendadak kaku dan hanya bisa mematung di depan dua orang paruh baya yang tengah duduk seraya menatapku. Aku meresponnya dengan tersenyum tipis. Sepertinya aku sudah salah bicara, kenapa aku menjawab takut terkena macet? Akhirnya Bu Santi menemukan celah agar aku bisa bersama Rama, ditambah ia juga mendapat dukungan dari Bapak. 

"Mira berangkat sendiri aja, ga apa-apa. Yaudah Pak, Mira kayaknya harus berangkat sekarang, ini juga udah siang, Mira pamit yah," ucapku langsung mengambil tangan Bapak dan tentunya Bu Santi juga. 

“Assalamualaikum,” ucapku dan gegas pergi. 

Aku tidak tahu lagi apa yang mesti aku lakukan untuk menghindari perjodohan ini. Rasanya hatiku sudah sangat lelah, karena terus-menerus didesak dan dipaksa untuk menerima Rama, dan kenapa juga Bu Santi harus ikut campur sejauh ini? Dan apa yang akan dibicarakan Bu Santi dengan Bapak di rumah? Apa mereka akan merencanakan sesuatu lagi?

Seketika aku pun teringat lagi pada niat Adryan yang mengatakan ingin berta'aruf denganku, harapan itu seakan-akan muncul kembali. Namun Adryan tidak ada kabar apapun setelah aku mengirimkan CV biodataku padanya. Apa mungkin Adryan menjadi ragu dan berubah pikiran setelah membaca CV yang kubuat dengan penuh kejujuran dan harapan itu?

Namun lagi-lagi aku harus menepis harapan itu. Biarlah jika Adryan ingin mengurungkan niatnya, mungkin memang bukan dia yang menjadi takdirku. Tapi disisi lain aku juga tidak ingin jika aku harus bersanding dengan Rama dan aku sudah sangat lelah mengatakan bahwa aku benar-benar tidak ingin menerima Rama.

***

Matahari seakan sudah ingin tenggelam dari tempatnya, menimbulkan senja yang begitu indah untuk dipandang. Melihat orang-orang yang terlihat lelah karena telah bekerja demi untuk bisa menghidupi keluarganya, membuatku tak merasa sendiri di dunia yang fana ini. Hidup memang tak pernah ideal bagi siapapun, semuanya diuji menurut takarannya. Aku hanya berharap, aku bagian dari satu orang yang mampu menerima segala takdirnya dengan lapang dada, tanpa adanya protes sekalipun. 

"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki rumah. 

Lihat selengkapnya