Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #28

Antara gelisah dan berdebar

Aku menunggu Risa di taman anggrek tempat biasa kita janjian. Biasanya Risa yang lebih dulu datang dan menungguku. Aku memang pernah mengatakan pada Risa, bahwa aku tidak bisa datang lebih awal atau bisa saja telat, karena aku harus mengurus pekerjaan rumah dulu hingga selesai. Namun dengan tulusnya Risa berinisiatif sendiri untuk mau menungguku di taman ini, Risa juga nampak tak keberatan dan langsung memahami kondisiku. Namun kali ini aku memutuskan untuk berangkat lebih awal dan kini giliranku menunggunya. Dengan perasaan cemas dan gelisah tak menentu, mengingat ucapan Risa yang mengatakan bahwa Adryan ingin berbicara sesuatu denganku, rasanya membuat jantungku berdebar lebih kencang. Sepertinya, Adryan akan menyampaikan sesuatu hal yang memang penting, semoga saja itu sesuatu yang baik. Namun jika pada akhirnya, Adryan memutuskan untuk menyudahi ajakan ta’arufnya, tentu saja aku harus menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Namun ketakutan seolah kembali, jantungku juga semakin tertompa kencang tatkala aku mengingat usaha Bu Santi untuk bisa menyatukanku dengan Rama. Bagaimana jika usaha Bu Santi berhasil dan Rama tiba-tiba datang ke rumah untuk melamarku lalu itu setujui oleh keluargaku? 

Melihat bunga-bunga indah yang bermekaran di taman, seolah tak mampu menghibur hatiku. Rasa gelisah di wajahku sepertinya tidak bisa disembunyikan, perasaan campur aduk seakan meronta di dalam hati. Antara rasa cemas dan penasaran, apa yang sebenernya mau Adryan katakan hari ini padaku? Lalu rasa ketakutan yang terkadang menyelimutiku perihal Rama. Entah mengapa, karena hal ini lah membuat perasaanku menjadi muak dan seperti ingin membenci Bu Santi, karena dia lah dalang atas perjodohanku dengan Rama. Yang membuatku seakan tak berdaya, keluargaku justru mendukung penuh dan bahkan memaksaku untuk menerima itu, tanpa pernah mau peduli dengan perasaanku. Aku menarik nafas dengan panjang, mengatur perasaanku agar tetap tenang.

“Mbak,” sapa Risa menghampiri secara tiba-tiba.

“Risa!” ucapku sedikit tersentak. 

“Udah lama yah, Mbak? Maaf yah Mbak, tadi macet soalnya, dekat rumah lagi ada perbaikan jalan,” ujar Risa.

“Iya, ga apa-apa,” balasku.

“Yaudah yuk, kita ke sana. Biar kita bisa dapet tempat duduk paling depan,” ajakku. Meski hatiku tak bisa bohong, rasanya aku ingin langsung menanyakan tentang Adryan pada Risa. 

“Mbak, tunggu! Emmm, sebenernya tadi aku dapet info dari panitia kajian, katanya kajiannya dimundurin jadi malam, soalnya ustadznya masih di perjalanan pulang dari Lampung, terus ustadz yang lain juga lagi berhalangan,” ungkap Risa.

Aku terdiam sejenak.

“Maaf yah Mbak, aku baru ngasih taunya sekarang, soalnya aku juga dapat infonya semalem, terus baru aku baca di jalan tadi, pas mau ke sini,” lanjut Risa.

“Oh, yaudah. Terus gimana? Kamu mau ikut kajian nanti malam?” tanyaku.

“Kayaknya enggak deh, Mbak,” jawab Risa seraya berpikir.

“Soalnya rumah aku kan lumayan jauh, pulangnya pasti malem banget. Bapak juga kayaknya ga akan ngizinin,” sambungnya. 

“Oh, gitu,” lirihku seraya menghela nafas.

“Mbak emang mau ikut kajian, nanti malem?” tanya Risa.

“Hmmm, ga tau ya, Ris. Aku juga kayaknya sama, nyampe rumah pasti malem banget, belum lagi kalau macet di jalan,” jawabku.

“Iya sih Mbak, peserta kajian yang lain juga kayaknya ga ikut kajian, mereka juga takut kalau pulangnya kemaleman. Tapi ga tau kalo jamaah laki-lakinya, kayaknya ada juga yang mau ikut kajian,” tutur Risa.

Lihat selengkapnya