"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Mbak Ratih.
Aku tercengang ketika mendapati ada Bu Santi bersama Bapak dan juga Mbak Ratih tengah duduk bersama di ruang tamu.
“Eh Mira, baru pulang yah?” tanya Bu Santi dengan ramah, membuatku mematung di ambang pintu.
“Iya, Bu,” jawabku dengan tersenyum tipis.
Aku lalu menyelami tangan Bapak, Mbak Ratih dan tentunya Bu Santi.
"Ya sudah, saya pamit pulang yah, Mas. Udah sore juga," ucap Bu Santi.
"Santai aja Bu, baru juga jam berapa. Lagian kan rumah Ibu deket," sahut Mbak Ratih.
"Ibu belum masak soalnya. Ya udah Mas, saya pulang, yah. Mira, Ibu pulang dulu yah, udah sore soalnya, Assalamu'alaikum," ucap Bu Santi lalu pergi.
"Waalaikumsalam," jawabku kompak bersama Bapak dan Mbak Ratih.
Aku masih berdiri seraya melihat kepergian Bu Santi dari rumahku. Kenapa Bu Santi tiba-tiba pamit pulang setelah ada aku? Entah mengapa, aku merasa, Bu Santi memang sengaja menghindar.
"Pak, Bu Santi mau ngapain datang ke sini?" tanyaku setelah memastikan Bu Santi benar-benar sudah jauh dari rumah.
"Ya ngomongin kamu lah. Oh iya Mir, Bu Santi tadi bilang, katanya dia udah ngomong ke Bu Narsih, ibunya Rama," sahut Mbak Ratih dengan semangat.
"Ngomong ke Bu Narsih?” tanyaku seraya mengernyit lalu duduk bersama Bapak dan juga Mbak Ratih.
"Iya. Dia udah ngobrol soal kamu sama Rama. Bu Santi juga bilang, kalo Bu Narsih itu udah setuju banget kalo Rama itu menikah sama kamu. Jadi katanya, nanti biaya nikah kamu sama Rama mau dibantuin sama Bu Narsih, jadi bisa cepet. Kamu jadi ga perlu nunggu-nunggu Rama ngumpulin uang dulu buat nikah," jelas Mbak Ratih dengan semangatnya.