Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #31

Kamar paling sunyi

Malam hari, ku rebahkan tubuhku dan menatap atap langit kamarku. Keadaan rumah cukup hening, badanku pun terasa begitu lelah, namun entah mengapa itu tidak bisa membuatku tertidur. Biasanya jika merasa lelah, aku akan lebih cepat untuk tidur dan terlelap, namun kali ini berbeda. Rasanya aku ingin sekali ibadah malam lagi, berdoa dan mencurahkan semua beban yang aku rasakan. Setidaknya setelah ibadah malam, perasaanku jadi jauh lebih tenang seperti biasanya, namun malam ini tidak bisa, karena aku tengah berhalangan datang bulan. 

Beberapa kali aku memejamkan mata, membolak-balikan badanku ke kiri dan ke kanan mencoba untuk mencari kenyamanan agar bisa terlelap, namun tetap saja, mataku seolah enggan untuk menutup, mungkin karena pikiranku tengah tertuju pada sesuatu yang cukup mengganggu. 

Drrrttt…!” terdengar bunyi getar ponselku. Aku bangun lalu mengambil benda pipihku yang seperti biasa ku simpan di atas meja rias.

["Assalamu'alaikum, Mira,"] pesan tanpa nama. Namun aku tahu pasti siapa pengirimnya. Aku memang sengaja tidak menyimpannya. 

Aku menghela nafas lalu memalingkan wajahku dari ponsel yang baru saja ku sentuh. Tak bisa ku pungkiri bahwa aku semakin merasa muak pada Rama. 

["Waalaikumsalam,"] balasku. Aku membalasnya karena dia menyapaku dengan salam, sebagaimana kewajibanku membalas salam. Namun dahiku mendadak mengkerut, mengapa Rama tiba-tiba menyapa dengan salam? Tumben sekali, tidak seperti biasanya. Apa ini cuma trik dia agar aku mau membalas pesannya? Terdengar seperti kegeeran, bisa saja Rama memang sudah berubah, dia mungkin sudah berubah menjadi pemuda yang lebih baik, yang tahu bagaimana menyapa orang lewat pesan. 

Aku menghela nafasku, memilih tak mengindahkannya. Daripada aku berpikir terlalu jauh soal Rama, lebih baik tak ambil pusing. Aku langsung menaruh lagi ponselku di atas meja rias tanpa ingin tahu apakah Rama akan mengirimkan pesan lagi atau tidak. Perasaan aku pun semakin tak karuan, sepertinya aku memang harus cepat-cepat mengatakan pada Bapak tentang Adryan. Sebelum Bu Santi melakukan sesuatu hal yang lebih jauh lagi. 

Aku beranjak dan keluar dari kamarku. Langkahku perlahan menuju kamar Bapak yang berjarak tak jauh dari kamarku.

Tok, tok, tok.

“Pak!” ucapku. Namun tak ada jawaban. Lalu aku mendengar suara dengkuran Bapak dari dalam. Aku mengendus nafas sedikit kasar, rupanya Bapak sudah tertidur lelap. Aku menoleh pada jam dinding, yang menunjukkan pukul 11.00 malam, pantas saja Bapak sudah tertidur. Tak ada pilihan lain selain kembali ke kamar.

***

Esok harinya, matahari mulai memancarkan sinarnya, menyinari bumi dengan sinar hangatnya.  

"Hai, Mir," ucap Rini menyapa. 

"Hai, Rin," jawabku. 

"Kenapa, Mir? Kok mukanya kayak lesu gitu, sih?" tanya Rini.

"Engga, ga apa-apa. Mungkin efek ngantuk aja," jawabku tersenyum seraya menghampiri meja kerjaku. 

"Ngantuk? Masih pagi udah ngantuk, emang semalem ngapain? Begadang?" celetuk Rini. 

"Engga sih, cuma ga bisa tidur aja. Jadi tidurnya, agak malem," sahutku dengan jujur.

Lihat selengkapnya