Hari sudah gelap tanda malam sudah turun.
Aku keluar dari kamar. Di balik pintu aku menarik napas dalam, lalu berjalan dengan mantap ke kamar Bapak.
Tok, tok, tok.
“Pak ..!” panggilku. Namun tak ada sahutan apapun dari dalam. Aku menoleh ke jam dinding yang berdetak, waktu menunjukkan pukul 07.000 malam. Rasanya tidak mungkin jika Bapak sudah tertidur. Aku mencoba untuk menekan gagang pintu kamar Bapak dan langsung saja terbuka, ternyata kamar Bapak sedang tidak dikunci. Tanpa ragu aku langsung membukanya dengan lebar, namun kamar nampak kosong.
“Kemana, Bapak?” batinku.
Aku lalu menoleh ke arah dapur. Mungkin saja Bapak di dapur atau sedang di kamar mandi. Aku langsung berjalan ke dapur, namun tak ada siapapun juga.
Tok, tok, tok.
“Pak!” panggilku di depan pintu kamar mandi, namun lagi-lagi tak ada yang menyahut, lalu ku putuskan langsung membukanya. Ternyata kosong, di kamar mandi pun Bapak tidak ada.
“Sepertinya Bapak memang keluar, atau Bapak memang belum pulang dari Masjid?” batinku lagi.
Tanpa berpikir lama, aku putuskan kembali ke kamar. Namun langkahku terhenti saat di depan kamar Rena.
Tok, tok, tok.
“Ren!”
Nampak tak ada jawaban lagi. Karena tak ingin membuang waktu lagi, aku langsung membukanya. Ternyata kamar Rena juga kosong, kasurnya pun nampak masih rapi.
“Sepertinya Rena belum pulang,” batinku lagi.
“Assalamualaikum,” ucap seorang yang datang. Mendengar itu, aku gegas menghampiri.
“Waalaikumsalam," sahutku.
"Loh, Pak? Baru pulang?” tanyaku pada Bapak yang baru saja menutup pintu.
“Iya. Tadi di Masjid ada pengajian,” jawab Bapak.
Aku menarik nafas panjang.
“Pak, Mira mau ngomong sesuatu sama Bapak,” ujarku. Seketika Bapak langsung menghentikan langkahnya.
“Mau ngomong, apa?” tanya Bapak seraya berbalik badan.
“Emm…,” seketika aku mendadak gugup.
Aku mengulum bibirku lalu menelan salivaku.
“Itu Pak, Mira mau ngomong…,”