Keesokan harinya, aku berangkat bekerja seperti biasanya. Hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di minggu ini, aku merasa lebih bersemangat, mengingat besok adalah hari libur dan dimana Adryan akan berkunjung ke rumah untuk menyatakan niatnya dan bertemu dengan Bapak. Semoga saja tidak ada halangan apapun, rasanya lelah sekali jika mengingat Bapak dan Mbak Ratih yang terus saja memaksaku untuk menerima Rama.
Aku berjalan melewati rumah-rumah yang menjadi tetanggaku, matahari memang sudah bersinar tapi angin yang berhembus membuatku masih bisa menikmati udara di pagi hari. Hidup di sebuah lingkungan pedesaan tidaklah mudah, banyak hal yang membuatku merasa asing karena memiliki pemikiran yang berbeda. Tetangga memang selalu ramah, namun sayangnya diiringi dengan sikap mereka yang suka nyinyir dan terkadang juga melontarkan kata-kata perbandingan untuk anak-anak mereka, tak terkecuali aku. Meski hanya tetangga, namun tak sedikit dari mereka yang menganggap kalau aku ini berbeda. Aku pun pernah mendengar desas desus tentang diriku, ada yang mengatakan bahwa aku adalah gadis sombong dan angkuh karena lebih fokus mengejar karir dan melupakan pernikahan. Terlepas gosip atau bukan, aku selalu berusaha memaklumi mereka, mungkin karena faktor lingkungan dan tidak ada lagi yang bisa dikerjakan selain pekerjaan rumah, ditambah minimnya pendidikan yang ditempuh, bisa jadi penyebab mereka mempunyai pola pikir seperti itu.
“Mira,” sapa Bu Santi dari belakang, aku pun langsung menoleh. Aku merasa terkejut, Bu Santi tiba-tiba menghampiri.
“Kamu mau berangkat, Mir?” tanyanya.
Aku masih terkejut, aku tak menyangka bahwa ada Bu Santi.
“I-iya, Bu,” jawabku gugup.
“Kamu sehat kan, Mir?” tanyanya lagi.
“Alhamdulillah, Sehat Bu,” jawabku tersenyum tipis.
Entah mengapa perasaanku mulai tidak enak.
“Alhamdulillah, Ibu seneng dengernya. Oh iya Mir, Ibu udah bilang ke Bu Narsih soal kamu yang katanya ga mau pacaran dan maunya langsung diseriusin. Bu Narsih dukung kamu, dan nanti katanya mau datang ke rumah kamu, buat ngomongin pernikahan kamu sama Rama,” ujar Bu Santi dengan ceria.
Bagai disambar petir di pagi hari. Aku tercengang, mataku langsung menyorot pada wanita paruh baya yang ada di hadapanku itu. Sejak kapan aku mengatakan, bahwa aku menerima Rama? Apalagi menikah dengannya.
“Apa?” sahutku.
“Iya, kamu senang, kan? Akhirnya ada juga yang mau melamar kamu,” lanjut Bu Santi.
Lagi-lagi aku tercengang mendengar ucapan Bu santi. Kenapa dia bicara seperti itu, seolah-olah tidak ada laki-laki yang mau melamarku.
“Maaf Bu, saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya tidak pernah meminta keseriusan Mas Rama, apalagi memintanya datang ke rumah untuk membicarakan pernikahan,” ucapku.
“Loh, bukannya kamu yang bilang sendiri ke Mbak mu, Ratih? Katanya kamu itu ga mau pacaran, tapi kamu maunya diseriusin,” balasnya.
“Maaf Bu, sepertinya Mbak Ratih salah paham sama ucapan saya. Saya tidak pernah meminta keseriusan Mas Rama atau siapapun,” sahutku.