Keesokan harinya. Aku tengah bersiap untuk menyambut kedatangan Adryan yang selama ini sudah ku nanti, aku mengoleskan make up secara tipis di wajah ku, setidaknya untuk terlihat sedikit segar dan tidak pucat. Namun tiba-tiba jantungku berdebar tak menentu, rasanya senang dicampur gugup. Ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini dan Adryan adalah laki-laki pertama yang datang ke rumah dengan niat baiknya.
Ponselku tiba-tiba menyala aku menoleh dan langsung menyambar benda pipihku itu di atas meja rias.
[“Assalamualaikum Mira, saya sudah sampai tapi saya mau salat dzuhur dulu, setelah itu saya akan langsung ke rumah kamu,”] pesan Adryan.
Rasanya ingin menjerit kegirangan mendapat pesan cinta dari Adryan. Namun sayangnya aku harus tetap tenang, aku harus membuktikan pada Mbak Ratih bahwa aku tidak berbohong, terutama pada Bu Santi yang sudah jelas-jelas merendahkanku karena menganggap tidak ada laki-laki yang mau serius denganku. Aku berharap setelah Adryan datang ke rumah dan menyatakan niatnya mereka tidak lagi mengangguku.
Matahari berdiri tegak di tengah langit siang, memancarkan cahaya yang begitu terang dan menyebar ke setiap sudut kehidupan.
“Assalamualaikum,” ucap seorang pemuda di depan pintu. Suara yang sangat aku kenal.
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Lalu aku mencoba mengintip di balik jendela kamar. Wajahku seolah langsung merona, betapa bahagianya hati ini, melihat pujaan hati yang selama ini kunanti ada di depan rumah.
“Assalamualaikum,” ucapnya lagi. Saking bahagianya aku lupa dengan kewajibannya untuk menjawab salam.
Aku menghela nafas sejenak untuk menyiapkan diriku.
“Waalaikumsalam,” jawabku sedikit berteriak. Lalu membuka pintu dan menyambut kehadiran Adryan.
“Mas Adryan,” ucapku seraya tersenyum kecil.
Aku mengangkat kedua tangan dan menelungkupkannya untuk memberikan salam penghormatan. Adryan dan laki-laki yang bersamanya pun membalas dengan gerakan yang sama.
“Mari Mas, masuk,” ajakku.
“Iya, terima kasih,” balas Adryan.
Adryan datang bersama seorang laki-laki yang belum aku kenal, bahkan aku baru melihatnya. Siapa laki-laki itu? Dia nampak masih muda dengan penampilan yang cukup rapi.
“Oh iya, Mira kenalkan, ini kakak saya. Namanya Mas Panji,” ujar Adryan.
Aku tersenyum sapa seraya sedikit menunduk pada laki-laki yang ternyata adalah kakak dari Adryan.
“Silahkan duduk, Mas. Oh iya, mau minum apa? Biar saya buatkan dulu,” tanyaku.
“Air putih aja,” jawab Adryan.
“Kalo Mas Panji, mau minum apa?” tanyaku lagi.
“Samain aja, air putih juga,” jawabnya.
“Kalo gitu sebentar ya Mas, saya ke belakang dulu,” ucapku.
“Yan, jadi itu calon kamu?” bisik Panji.
“Iya, Mas,” jawab Adryan.
“Lumayan. Dia kerja di kantoran juga?” bisiknya lagi.
“Iya, Mas. Aku kan udah kasih tau semuanya sama Mas Panji,” jawab Adryan.
“Ya Mas kan, cuma mau mastiin aja,” ujar Panji.
“Mir, mau ke mana?” tanya Bapak yang baru saja keluar kamar. Aku sampai lupa memberi tahu Bapak kalau Adryan sudah datang.
“Mau ke belakang Pak, mau bikin minum. Oh iya Pak, Adryan sudah datang sama kakaknya, sekarang lagi di ruang tamu,” jawabku.