Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #38

Di antara takdir dan doa

Malam menjelang. Udara terasa dingin, angin berhembus pelan melalui celah jendela. Aku keluar dari kamar lalu berjalan ke dapur. Ku tuangkan segelas air putih dan langsung meneguknya hingga habis. Selesai mengisi dahaga yang kering, aku kembali ke kamar. 

“Halo…!” teriak Bapak yang membuat langkahku terhenti tepat di depan kamarnya.

“Waalaikumsalam, Bu Santi,” lanjut Bapak. Baru saja akan melangkah, namun lagi-lagi seolah dihentikan oleh suara Bapak dari dalam kamarnya dan sontak membuatku langsung menoleh. Aku memasang telinga di balik pintu kamar Bapak, mencoba untuk mendengar diam-diam apa yang Bapak bicarakan dengan Bu Santi lewat telepon. 

“Tidak apa-apa Bu, saya juga belum tidur. Ada apa Bu telepon malam-malam?” tanya Bapak. 

Kini rasa penasaran pun semakin menyelimuti hatiku. Telingaku semakin terfokus pada ruangan yang hanya ada Bapak di dalamnya. 

“Mas, saya dapat kabar dari Rama. Katanya Mira mendadak menolak Rama, dan Mira juga katanya sempat menghina Rama. Bagaimana toh, Mas? Ga seharusnya loh Mira bersikap seperti itu,” tutur Bu Santi. 

“Menghina, Rama? Maksudnya menghina bagaimana Bu?” balas Bapak.

“Menghina?” batinku. Mendengar lagi suara Bapak membuat dahiku mengkerut. 

“Ya kata Rama sih, Mira itu terlalu sombong, terlalu menganggap dirinya pintar dan hebat,” jawab Bu Santi. 

“Waduh, kalau soal itu, jujur saya belum tau Bu. Nanti saya nasehati Mira, agar dia tidak bersikap seperti itu lagi,” balas Bapak. 

“Sebenarnya apa yang Bapak dan Bu Santi bicarakan? Kenapa mereka bawa-bawa namaku dan Rama?” batinku lagi. Sayangnya, aku hanya bisa mendengar suara Bapak. 

“Mira juga katanya sudah menolak Rama mentah-mentah. Dia bilang kalo dia ga suka sama Rama, nada bicaranya pun persis orang angkuh. Ga baik toh Mas, anak gadis seperti itu. Sebenarnya Mas, di luar sana itu banyak yang naksir sama Rama, bahkan mereka jauh lebih baik dari Mira. Mereka cantik, pintar dan juga baik. Meskipun begitu, mereka ga pernah menyombongkan dirinya, apalagi merasa diri lebih hebat dari orang lain. Sebaiknya Mas kasih tau Mira, agar dia jangan terlalu angkuh, takutnya laki-laki malah menjauh nanti,” tutur Bu Santi lagi.

Lihat selengkapnya