"Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam,” jawab Bapak. Seperti biasa Bapak duduk di teras dengan ditemani gawainya dan sebatang rokok serta secangkir kopi.
Aku menghampiri Bapak lalu menyelaminya.
“Baru pulang, Mir?” tanya Bapak seraya menatap gawainya.
“Iya Pak. Mira ke dalem dulu yah, Pak,” jawabku.
“Eh Mir, tunggu!”
Seketika aku menoleh. Bapak langsung beranjak.
“Bapak mau ngomong sama kamu,” ujar Bapak.
“Mau ngomong apa, Pak?” tanyaku malas.
“Kita bicara di dalam saja,” ajak Bapak.
Bapak masuk ke ruang tamu, lalu aku menyusulnya. Ada apa lagi, ini? Aku langsung teringat sambungan Bapak dan Bu Santi semalam. Bapak pasti akan membahas Rama.
Aku menghela napas ku dulu, lalu duduk bersama Bapak.
“Mir, Bapak mau tanya soal Adryan. Kamu sama Adryan betulan serius, kan? Kapan Adryan mau datang lagi ke sini?” cecar Bapak langsung.
Dahiku sedikit mengkerut. Aku pikir Bapak akan membahas Rama. Namun pertanyaan Bapak kali ini juga sukses membuatku bingung menjawabnya. Aku tidak tahu, karena memang aku belum berkomunikasi lagi soal hubunganku dengan Adryan. Entahlah, namun jauh di relung hatiku, aku masih berharap Adryan datang lalu melamarku.
“Gimana, Mir. Kapan Adryan mau ke sini lagi buat ketemu, Bapak?” tanya Bapak.
Aku diam tak bergeming seraya berpikir. Aku harus menjawab apa.
Krekk!”
Pintu tiba-tiba dibuka dari luar.
“Pak, Mir. Loh, kamu udah pulang, Mir? Lagi ngapain?" tanya Mbak Ratih dengan membawa piring kosongnya.
“Lagi ngobrol. Kamu mau ngapain?” balas Bapak seraya melihat piring di tangan Mbak Ratih.
Mbak Ratih tersenyum sambil memamerkan giginya lagi.