Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #40

Malam sunyi tak berujung

[“Assalamualaikum, Mas,]” pesanku pada Adryan.

Aku memberanikan diri untuk lebih dulu menghubunginya. 

“Kok ceklis satu?” batinku. 

Nampaknya nomor Adryan sedang tidak aktif, pesanku tidak terkirim. 

Dengan membuang napas, berusaha menguatkan hati. Ku simpan gawaiku di atas meja rias, lalu merebahkan tubuh untuk beristirahat sejenak. 

***

Malam kembali datang dengan cahaya gelapnya. Aku masuk ke dalam kamar setelah selesai makan malam. Ku lihat kembali pesan yang ku kirim pada Adryan, namun tidak ada yang berubah, jangankan untuk dibalas, terkirim saja tidak, nomornya masih belum aktif. Kemana dia?

“Apa Adryan lagi sibuk?” batinku lagi. 

Aku terdiam sesaat, apa ini hanya perasaanku saja? Rasanya seperti aneh, semenjak Adryan berkunjung dan datang ke rumah, dia tak lagi menghubungiku, tidak ada kabar apapun dari dia. Sekarang nomor ponselnya pun nampak tak aktif. 

Tiba-tiba rasa cemas menyerangku, apa mungkin Adryan berubah pikiran, ia tidak tertarik lagi padaku dan menyudahi hubungan ini begitu saja? Lagi-lagi membuang napas seraya mencoba menepis segala prasangka buruk yang tiba-tiba saja terlintas. 

“Oh iya, apa aku hubungi Risa, aja?” gumamku.

Sepertinya saat ini memang hanya Risa yang mengerti bagaimana keadaanku. Aku juga sempat cerita padanya perihal perjodohanku dengan Rama. Apa aku ceritakan saja pada Risa semua masalahku dan apa yang aku alami? Mungkin Risa bisa membantu. Paling tidak, Risa mungkin bisa memberi dukungan padaku, rasanya lelah juga jika semua masalah dan juga tekanan harus ku simpan dan ku pendam sendiri. Mungkin, dengan aku cerita pada Risa, perasaanku jadi sedikit lega, dan bebanku sedikit berkurang. 

Aku mencari kontak Risa lalu mengetik untuk mengirim pesan padanya. Namun jariku berhenti bergerak dengan sengaja. 

“Apa aku langsung telpon aja, yah?” pikirku. Tanpa berpikir lama aku langsung menelpon Risa dan sambungan pun terhubung, namun nampaknya Risa tengah sibuk, teleponku tidak dijawab. Lagi-lagi aku membuang napas, mungkin Risa memang tengah sibuk, sebaiknya aku memang tidak mengganggunya. Namun, baru saja aku akan menyimpan ponselku di atas meja rias, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk mendarat.

“Risa?” ucapku. Tanpa berpikir lama aku langsung mengangkatnya. 

“Halo. Assalamualaikum, Ris,” ucapku.

“Waalaikumsalam. Mbak tadi nelpon yah, maaf yah tadi aku lagi di kamar mandi,” jawab Risa.

“Oh iya, ga apa-apa. Maaf yah kalo aku ganggu kamu,” ucapku.

“Ga ganggu kok, Mbak. Ada apa, Mbak?” tanya Risa.

Akun terdiam sesaat, menghela napas seraya mencoba menenangkan hatiku. 

Lihat selengkapnya