Malam pun turun, menelan sisa-sisa cahaya dan membawa kesunyian. Aku keluar dari kamar. hendak ke kamar mandi.
“Halo …! Assalamualaikum,” teriak Bapak. Sontak membuatku langsung menoleh pada Bapak yang tengah duduk di depan televisi.
“Iya, Bu,” lanjut Bapak. Aku terdiam sesaat, karena merasa penasaran, aku berjalan perlahan untuk mendekat.
“Iya, Bu. Maaf nih Bu sebelumnya, tapi sepertinya Mira lebih memilih calonnya sendiri Bu,” ucap Bapak lagi pada sambungannya.
Sesuai dugaanku, itu pasti Bu Santi. Aku semakin menajamkan telingaku.
“Ya doakan saja ya, Bu. Insya Allah besok mau langsung lamaran,” lanjut Bapak lagi.
“Loh kok gitu, Mas. Bukannya Mas bilang, kalau Mas setuju Mira sama Rama? Padahal Rama dan Bu Narsih mau ke rumah loh, mau membicarakan soal pernikahan,” ujar Bu Santi.
“Maaf Bu, saya kan sudah pernah bilang, saya menyerahkan keputusannya sama Mira. Sejujurnya, saya pribadi setuju-setuju saja Mira sama Rama.Tapi yang mau menikah kan Mira, dia yang akan menjalaninya nanti. Jadi saya serahkan semua pilihannya sama dia, terserah dia mau milih siapa, dan sekarang Mira sudah memilih calonnya sendiri, Bu,” balas Bapak.
“Kenapa Bapak bicara seperti itu? Sebenarnya apa yang Bu Santi bilang ke Bapak?” batinku.
Sayang sekali, aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Bu Santi.
“Memangnya calonnnya Mira itu orang mana, Mas? Apa benar itu calonnya Mira? Jangan-jangan itu cuma temannya Mira aja, yang pura-pura supaya Mira bisa menolak Rama,” sahut Bu Santi.
“Katanya sih orang kota Bu, namanya Adryan. Waktu itu dia pernah datang ke rumah sama kakaknya, jadi sepertinya memang serius Bu. Saya juga yakin, kali ini Mira tidak berbohong,” jawab Bapak.
“Bohong? Kenapa Bapak bilang seperti itu? Memangnya kapan aku pernah berbohong?” batinku lagi. Rasanya aku semakin penasaran dengan obrolan mereka.
“Ya sudah, coba Mas tanyakan lagi sama Mira soal calonnya itu yang katanya orang kota. Saya cuma khawatir itu cuma akal-akalan Mira saja biar dia bisa menolak Rama. Zaman sekarang, banyak anak muda yang seperti itu loh, Mas. Mereka pura-pura aja punya pacar dan bilang itu calonnya, terus menikah. Padahal mereka cuma temenan aja, supaya ga dijodoh-jodohin lagi sama orang tuanya. Kayak di film-film gitu loh Mas, anak muda sekarang kan sukanya nonton film kayak gitu. Takutnya Mira juga seperti itu, apalagi yang saya dengar kan, Mira sama calonnya itu belum lama dekat, tapi tiba-tiba mau lamaran. Ini cuma ketakutan saya aja loh Mas, takutnya ngikutin kayak di film, Mira bikin surat perjanjian sama laki-laki yang katanya mau ngelamarnya besok,” ucap Bu Santi.
“Surat perjanjian? Perjanjian apa, Bu?” tanya Bapak. Terlihat raut wajah Bapak nampak serius mendengarkan Bu Santi.
“Perjanjian nikah kontrak Mas,” jawab Bu Santi.
“Astagfirullahaladzim!” sahut Bapak.
Aku semakin bingung dan penasaran, sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Kenapa Bapak sampai istigfar seperti itu? Raut wajahnya pun nampak tegang.
“Bu, saya yakin Mira tidak seperti itu. Dia tidak mungkin tega bohongin saya. Lagian saya juga sudah bicara dengan ayahnya Adryan,” balas Bapak.