Keesokan harinya.
Aku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku yang terpantul. Aku pun sudah mengenakan baju spesial yang sudah ku siapkan sejak kemarin.
Tok, tok, tok.
“Mir!”
Aku gegas membuka pintu.
“Mir, udah siap? Kamu udah hubungi Adryan? Udah sampe mana katanya?” tanya Mbak Rita yang nampak bersemangat.
“Belum, Mbak. Yaudah, aku coba hubungi Adryan dulu, yah,” balasku.
“Yaudah cepat, itu udah ada Pak Rt,” titah Mbak Rita.
“Iya, Mbak,” balasku lagi.
Aku langsung menyambar benda pipihku. Aku membuang napas sejenak dan dengan jantung yang berdebar, memalui aplikasi hijau, aku mencoba menghubungi Adryan.
[“Assalamualaikum. Mas, sudah sampai mana?”] Pesanku nampak terkirim, namun Adryan belum membacanya. Lagi-lagi membuang napas, jantungku semakin berdetak tak karuan.
Aku keluar dari kamar, lalu ku lihat ada beberapa orang yang hadir. Padahal katanya, Bapak hanya mengundang Pak Rt, namun nampaknya tetangga juga ada yang ingin ikut menyaksikan acara lamaranku.
Aku menoleh pada jam dinding yang berdetak.
“Seharusnya Adryan sudah sampai,” batinku. Lalu aku melihat kembali pesan yang ku kirimkan pada Adryan, namun tak ada perubahan, Adryan belum juga membacanya.
“Tenang Mira tenang, mungkin terkena macet,” gumamku sendiri. Aku mencoba untuk menghibur diri seraya lagi-lagi menghela napas.
“Mir, gimana? Adryan udah sampai mana katanya?” tanya Mbak Rita lagi.
“Belum di bales, Mbak,” jawabku.
“Bukannya katanya jam 10, Mir?” lanjut Mbak Rita setelah menoleh ke jam dinding.
“Iya, Mbak. Mungkin kena macet,” balasku.
“Yaudah, nanti kabarin Mbak yah kalo udah ada kabar. Mbak mau beresin makanan dulu,” ucap Mbak Ratih.
“Iya, Mbak,”
Aku langsung mengecek kembali ponselku dan untuk kedua kalinya aku mengirimkan pesan yang sama, berharap Adryan bisa langsung meresponsnya.
“Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 siang. Itu artinya Adryan sudah terlambat 30 menit.