Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #45

Acara lamaran

Seketika jantungku semakin berdebar tatkala aku melihat Adryan yang tengah berdiri di depan rumah karena baru saja tiba. Aku mengintipnya di balik lemari hias ruang tamu. Aku tidak berani untuk menghampirinya karena memang belum waktunya. Adryan nampak mengenakan baju batik serta celana hitam panjang, membuatku semakin kagum padanya karena terlihat semakin gagah dan maskulin.

"Silahkan masuk, silahkan masuk," ucap Pak Rt dengan ramah mempersilahkan para tamu yang baru saja datang itu untuk masuk. Aku gegas masuk ke kamar.

Adryan beserta keluarganya pun masuk ke dalam rumah, membuat jantungku semakin berdebar kencang.

Tak berselang lama, setelah Adryan dan keluarganya kompak duduk rapi di ruangan yang sudah ku siapkan, aku pun diminta keluar untuk menemui Adryan beserta keluarganya. Dengan perasaan gugup dan jantung berdebar, acara hari itu pun di mulai, dengan dipimpin oleh Pak Rt dan diawali dengan membaca Basmalah untuk membuka acara lamaran. Lalu tak lama dari itu, aku diminta memustukan, apakah aku menerima atau tidak lamaran dari Adryan. Tentu saja, dengan bangga dan bahagia sekaligus terharu, aku langsung menerima pinangan dari laki-laki yang selama ini aku tunggu kedatangannya itu. 

Akhirnya, aku dan Adryan resmi bertunangan saat itu. Seakan tersipu-sipu, aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku di depan para tamu. Mungkin dari sekian banyak tamu yang hadir, ada dari mereka yang melihatku dengan heran karena rona wajahku yang bersemu merah, ditambah make up yang ku pakai membuat wajahku terlihat lebih putih dari biasanya. 

Setelah itu, acara dilanjut dengan berfoto sebagai kenang-kenangan. Namun aku dan Adryan masih menjaga jarak kami untuk tidak langsung bersentuhan pada saat di foto. Lalu acara pun dilanjut dengan makan-makan, aku merapikan taplak meja dan mengamati para tamu yang tengah sibuk mengobrol sambil menyantap makanannya. Lalu tak sengaja aku menoleh pada Mas Panji yang terlihat masih asing, ia nampak mengedarkan matanya secara perlahan, seolah ingin menelusuri setiap sudut ruangan. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Namun matanya seolah menyiratkan bahwa ia kurang nyaman berada di dalam rumahku, rasanya aku ingin menghampirinya untuk sekedar bertegur sapa, setidaknya berusaha untuk lebih ramah pada calon kakak iparku itu. Namun sepertinya, situasinya tidak mendukung, di samping ramai dengan tamu yang lain, aku juga harus membantu agar rumah masih tertata dan terlihat bersih. 

"Kami pamit pulang ya Pak, terima kasih untuk jamuannya dan maafkan jika kami merepotkan," ujar ayahnya Adryan saat mereka hendak bersiap untuk pulang, karena acara sudah selesai. Beliau bernama Yusuf, pria paruh baya dengan usia berkisar 60 tahun namun masih terlihat gagah dan juga sehat. 

"Iya Pak, maaf yah jika sudah merepotkan," timpal istrinya. Wanita dengan usia sekitar 50 tahun itu, yang kini menjadi ibu sambung Adryan, ia terlihat ramah dan juga masih terlihat cantik meski usianya tak muda lagi. 

"Tidak. Sama sekali tidak merepotkan, kami justru sangat senang. Maaf, jika hidangannya terlalu sederhana atau dirasa kurang," ungkap Bapak.

"Ah tidak, justru masakannya enak-enak. Saya saja tadi sampai nambah," balas Yusuf.

"Syukurlah, Pak. Kapan-kapan kalau ada waktu, jangan sungkan untuk mampir ke sini," ucap Bapak. 

"Iya, Pak terima kasih atas tawarannya. Kalau gitu kami pamit ya, Pak," balas Yusuf. 

"Ini ada sedikit oleh-oleh asal sini, diterima ya Pak, Bu," sahut Mbak Rita seraya memberikan sekantong bingkisan.

"Wah, repot-repot," ucap istri Yusuf.

"Ga repot kok, Bu. Siapa tau ada yang mau cobain kuenya," timpal Bapak.

"Sekali lagi terima kasih ya Pak, Mbak dan semuanya. Kalau begitu, kami pamit," ucap Yusuf. 

"Iya, hati-hati ya Pak, Bu," ucap Bapak. 

Lihat selengkapnya