Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #46

Persiapan pernikahan

“Mir, nih. Ini udah semuanya katanya,” ucap Mbak Ratih memberikan beberapa lembaran kertas yang berisi nama-nama undangan.

“Ini udah fiks semuanya, Mbak?” tanyaku.

“Udah kata Bapak,” jawab Mbak Rita.

“Yaudah. Kalo udah fiks aku langsung kirim ke percetakan yah, biar lebih cepat selesai surat undangnya,” ujarku.

“Iya, langsung aja. Biar kita bisa urus yang lain,” balas Mbak Rita seraya memainkan ponselnya. 

“Oh iya, Mbak. Mbak Ratih... kok belum ke sini lagi? Apa.. masih marah sama aku?” tanyaku sedikit ragu.

“Marah? Marah kenapa? Gara-gara kamu lebih milih Adryan daripada Rama?” balas Mbak Rita. 

“Kan kamu sendiri yang bilang, yang mau nikah itu kamu, jadi semua keputusan dan pilihan di tangan kamu. Udah kamu ga usah mikirin, paling Mbak Ratih lagi kesal aja karena ga sesuai sama keinginan dia. Kamu tau sendiri Mbak Ratih sifatnya gimana,” sambung Mbak Rita.

“Iya, Mbak,” ucapku.

“Sama kayak Bu Santi. Paling sekarang dia juga lagi kesal, sama kecewa, karena perjodohan kamu sama Rama gagal,” lanjut Mbak Rita.

“Bu Santi?” batinku. Seketika aku teringat kembali pada wanita itu. Wanita yang selalu saja memancing emosiku. 

“Udah Mir, kamu ga usah mikirin yang lain. Mendingan kamu fokus urusin acara nikahan kamu sama Adryan, kalau soal Mbak Ratih, nanti juga baik sendiri kayak biasanya,” ujar Mbak Rita.

Aku tersenyum dengan semua perhatian yang diberikan kakak keduaku itu. Beberapa hari belakangan Mbak Rita memang sangat baik, ia selalu berada dipihakku. Terutama jika menyangkut Adryan, ia adalah orang pertama yang percaya padaku soal Adryan dan tentunya sangat mendukung hubunganku dengan Adryan.

“Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak,” ucapku lagi.

“Udah, ga usah mikirin lagi. Mbak pulang yah, ini udah malem takutnya Syifa udah ngantuk, nanti aja kita lanjutin besok,” ujar Mbak Rita seraya beranjak dari duduknya.

“Iya, Mbak,” 

“Yaudah Mbak pulang, yah,” ujar Mbak Rita lagi lalu pergi.

Aku merapikan semua berkas dan catatan untuk persiapan pernikahanku dan Adryan. Tenggorokanku terasa kering sepertinya aku harus membahasahinya dengan meminum. 

“Halo...! Walaikumsalam. Iya, Bu Santi?” teriak Bapak dari dalam kamarnya. Langkahku sontak terhenti, sejenak dahiku mengkerut, sepertinya Bapak tengah menelpon Bu Santi. Seperti biasanya, karena penasaran dengan perkacapan mereka, aku mendekatkan diri pada pintu kamar Bapak.

“Iya, Bu. Maaf yah Bu, Mira sekarang sudah resmi dilamar, dia lebih milih calonnya sendiri,” ujar Bapak.

“Syukurlah Mas, saya ikut senang aja dengarnya. Semoga Mira tidak salah pilih yah, dan yang terpenting pasangan Mira juga serius. Biar gimanapun ini kan keputusannya Mira, hak dia juga, saya cuma bisa mendoakan,” ucap Bu Santi.

“Iya Bu, terima kasih banyak ya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf,” ucap Bapak.

Aku merasa lega dan tenang mendengar Bapak bicara seperti itu. Semoga saja perasaanku benar, kali ini Bapak ada dipihakku. Aku menghela napasku lalu memutuskan pergi ke dapur saja untuk minum. Apapun yang dibicarakan Bu Santi pada Bapak, setidaknya itu tidak akan merubah keadaan, bahwa aku sudah bertunangan dengan Adryan.

“Iya Mas, ga apa-apa, ga usah minta maaf. Namanya juga jodoh. Semoga Mira bahagia yah sama pilihannya, saya turut bahagia dan semoga acaranya nanti lancar,” balas Bu Santi.

“Iya, Bu, terima kasih banyak yah Bu,” ucap Bapak.

“Iya, Mas, sama-sama. Kalau begitu sudah dulu yah, Mas. Assalamualaikum,” ucap Bu Santi.

Lihat selengkapnya