Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #47

Acara pernikahan

Akhirnya, hari itu pun tiba, dimana akan menjadi sejarah dalam hidupku. Hari dimana Adryan akan resmi meminangku dengan mengucapkan akad suci di depan para saksi. 

Sungguh saat-saat mendebarkan itu terpampang jelas di depan mata. Aku melihat langsung Adryan menjabat tangan Bapak lalu mengucapkan ijab qobul dengan lantang dengan satu tarikan napas. 

"Saya terima nikah dan kawinnya, Almira puspita binti Hadiyanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," 

"Bagaimana saksi? Sah?" 

"Sah..!"

Akhirnya aku dan Adryan resmi menjadi sepasang kekasih halal, sama-sama mengikat janji. Janji di hadapan Allah yang akan kita bawa sampai mati. Aku mendekat lalu mencium tangan Adryan yang kini sudah resmi menjadi suami serta imamku, aku menatapnya dengan haru dan rasa bahagia yang tak bisa ku jelaskan. 

Hari itu, Adryan benar-benar menyatakan cinta yang sesungguhnya. Dengan tatapan lembutnya, Adryan seolah memastikan cintanya padaku dan aku pun akan mengikatkan hatiku padanya.

Demi tuhanku dan juga janjiku, aku akan berjanji pada diriku sendiri untuk selalu setia dan menjaga sikap serta langkahku, dan demi ayah dan ibu Adryan, yang sudah mempercayaiku, aku akan berusaha menjadi pasangan dan istri yang baik untuk anaknya. 

"Mbak, Mas. Selamat yah akhirnya kalian sudah sah jadi pasangan halal," ucap haru Risa.

"Makasih ya, Ris," balas Adryan.

"Iya, Ris. Makasih yah selama ini kamu udah baik banget. Semoga kamu juga bisa cepat nyusul, yah," ucapku.

"Amiiin. Doain ya aja Mbak, biar aku bisa ngerasain juga bahagianya jadi pengantin," tutur Risa.

"Amiin. Mau Mas bantu ngomong ga, biar kamu cepat dihalalin?" goda Adryan. Risa langsung tersenyum menunduk.

"Ga usah, Mas. Biar Allah aja yang ngatur kapan waktu terbaik aku buat nikah. Sekarang Mas sama Mbak Mira fokus aja jadi pengantin, ga usah mikirin yang lain," balas Risa.

"Bisa aja, kamu," sahut Adryan.

Aku tak sengaja menoleh pada wanita yang selama ini ingin sekali aku hindari. Ya, tentu saja itu Bu Santi. Dia datang dan menyaksaksikan acara pernikahanku dan Adryan. Namun yang menjadi perhatianku, sorot mata dan mimik wajahnya nampak ketus dan tajam, seolah tak menyukai acara pernikahanku yang tengah digelar. Namun, sepertinya aku tak punya waktu untuk memikirkan perasaan Bu Santi, biarkan saja dia dengan perasaannya yang seperti itu. Lagipula, aku tidak punya kewajiban untuk menyenangkan hatinya. 

Para tamu yang hadir mengucapkan selamat padaku dan Adryan, ucap tulus mendoakan juga mereka lontarkan atas pernikahanku. Tak sedikit dari mereka yang berdoa agar aku dan Adryan bisa cepat diberikan momongan, doa yang umum diucapkan pada pasangan yang baru saja menikah. 

"Selamat ya Mir, ga nyangka loh ternyata kamu bisa nikah secepat ini. Kita pikir kamu akan dilangkahi sama Rena. Eh taunya, diam-diam malah langsung nikah,"

"Iya, ga nyangka banget. Kirain bakalan Rena duluan yang nikah, ga keliatan pacarannya soalnya. Eh taunya langsung nikah," timpal

"Ya lebih baik kayak gitu Bu, daripada pacaran lama-lama tapi ga nikah-nikah, mending kayak gini, satset-satset ga perlu pake nunggu-nunggu segala," kedua tetanggaku itu mengucapkan selamat atas pernikahanku. Namun kata-kata mereka juga seolah tengah mencibir Rena, matanya pun nampak melirik sesaat pada Rena. 

Rena yang berdiri tak jauh dariku langsung menoleh. Ia nampak kesal mendengar ibu-ibu itu yang seakan menyindirnya. 

"Namanya juga jodoh Bu, ga ada yang tau. Makasih yah Bu, udah mau datang," ucapku. 

Rena langsung pergi begitu saja dengan perasaan kesalnya.

Lihat selengkapnya