Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #48

Malam penuh cinta

Malam datang pelan-pelan dengan langit yang tenang dan udara yang terasa hangat seolah berbeda dengan hari biasanya. Lampu-lampu jalan menyala dan berkerlip seperti ikut merayakan hari bahagiaku yang telah berjalan dengan baik.

Adryan masuk ke kamarku, ia memakai celana panjang training dan kaos polos berwarna putih, serta handuk yang menempel di pundaknya. Aroma wangi semerbak sabun keluar dari tubuhnya dan seolah menyebar ke dalam kamar. Adryan memang baru saja selesai mandi, ia juga nampak tengah mengosok-gosokan rambut hendak mengeringkannya dengan handuk. 

“Kamu udah wudhu? Kita salat isya bareng, yuk,” ajaknya seraya menyentuh lembut pundakku. Hatiku tiba-tiba berdesir, rasa gugup, canggung serta malu seakan bersatu menyerangku. 

Aku tersenyum kecil.

“Maaf Mas, tapi aku lagi ga salat, aku lagi datang bulan,” jawabku. 

Adryan nampak mengulum senyumnya seraya menunduk dan sedikit mengangguk. Entah apa yang ia pikirkan, apa Adryan kecewa mendengar bahwa aku tengah datang bulan?

“Yaudah, kalau gitu aku mau salat dulu, yah,” ucapnya. Ia lalu bersiap-siap untuk melakukan ibadah salat isya.

“Iya, Mas. Aku mau keluar dulu ya, Mas. Mau ke kamar mandi,” balasku. Adryan hanya mengangguk. 

Aku keluar dari kamar. Di balik pintu, aku menarik napas panjang, rasanya seperti asing ada orang lain yang masuk ke kamarku, meskipun aku tau bahwa itu Adryan, yang kini sudah sah menjadi suamiku. 

Suasana rumah nampak hening dan sepi. Bapak, Rena dan lainnya nampaknya merasa lelah setelah seharian ikut menggelar acara pernikahanku dan Adryan. Bapak sepertinya sudah terlelap di kamarnya dan Rena diminta menginap di rumah Mbak Ratih untuk menemaninya, lantaran suaminya tidak jadi pulang. Sementara Mas Benny, ia memang jarang sekali ada di rumah, hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar rumah bersama teman-teman tongkrongannya. Suasan rumah yang terlihat sepi seakan mendukung situasiku dengan Adryan. Mungkin saja bukan hanya karena lelah, namun Bapak memang sengaja tidur lebih awal dan Rena menginap di rumah Mbak Ratih karena mereka tidak ingin mengangguku dan Adryan. Namun, semua itu seakan sia-sia, karena aku dan Adryan tidak akan melakukannya malam ini.

Aku langsung menuju kamar mandi.

Tok, tok, tok. 

Langkahku terhenti karena merdengar suara pintu belakang diketuk. Aku pun langsung membukanya.

“Mbak,” ucapku.

“Mir. Loh, kamu kok di sini?” tanya Mbak Rita. 

“Emangnya kenapa, Mbak?” balasku dengan mengernyit.

“Mbak sendiri mau ngapain?” sambungku.

“Mbak mau ambil kue, katanya Syifa mau makan kue lapis,” jawabnya lalu melengos menuju meja makan. 

“Kirain udah pada tidur. Pintu udah kunci aja Mir, mentang-mentang ini malam pengantin,” ledek Mbak Rita seraya merapikan kue yang sudah di tangannya. 

Mendengar itu, aku sontak menoleh pada Mbak Rita seraya mengernyit lagi. 

Lihat selengkapnya