Perlahan tangan Adryan menyentuh tanganku. Ia lalu menarik tanganku dengan lembut. Aku berdiri persis di depan Adryan yang masih duduk di kasur. Wajahnya nampak mendongkak sementara aku menuduk menatap wajahnya.
“Gini, kita kan sudah menikah. Aku… mau ngajak kamu tinggal, di rumah kita,” ucapnya.
“Rumah kita?” tanyaku mengernyit.
“Iya. Aku udah nyiapin rumah buat kita tinggal di sana,” jawabnya.
“Kamu mau kan, tinggal di sana? Cuma kita berdua aja,” tanyanya.
Aku terdiam untuk berpikir.
“Rumahnya memang ga terlalu besar apalagi mewah. Tapi insya Allah, itu cukup nyaman buat kita tempati,” sambungnya.
“Tapi.. aku belum ngomong sama Bapak. Aku mau ngomong dulu yah, sama Bapak,” pintaku.
Adryan langsung mendaratkan senyumannya.
“Kita bicarakan ini sama-sama yah, ke Bapak,” balasnya.
Aku pun sontak tersenyum seraya mengangguk.
“Yaudah, kita sarapan yuk Mas. Kamu mau sarapan dimana? Di sini atau di meja makan?” tanyaku.
“Di meja makan aja,” jawabnya.
“Yaudah, kalau gitu. Yuk,” ajakku.
Aku dan Adryan pun keluar kamar lalu ke meja makan.
“Pak, udah sarapan?” tanyaku pada Bapak yang tengah sarapan di meja makan.
“Iya, Bapak laper. Kalian, mau sarapan juga?” balas Bapak.
“Iya Pak, kita mau sarapan,” jawabku.
“Yaudah sini, kita sarapan bareng,” ajak Bapak.
Ku lihat makanan di piring Bapak sudah hampir habis.
“Mas, mau sarapan apa? Ada nasi goreng sama roti juga?” tanyaku.
“Nasi goreng aja,” jawab Adryan.
“Iya, mending sarapan nasi goreng, bikin kenyang daripada roti,” sahut Bapak.
Aku hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala.
“Segini cukup, Mas?” tanyaku saat menuangkan nasi goreng ke piring untuk Adryan.
“Oh, cukup, cukup,” jawabnya.
Aku pun mengambil ayam goreng sebagai lauknya.
“Bapak duluan yah, kalian makan aja yang kenyang,” ucap Bapak.
“Iya, Pak,” sahut Adryan.
Kini hanya aku dan Adryan yang tersisa di meja makan.
Kreekk!"
Bunyi pintu belakang di buka.
Nampak Rena tengah berdiri di depan pintu.
“Ren, kamu baru pulang??” tanyaku.
“Iya, Mbak,” jawabnya dengan malas. Rena lalu berjalan dengan langkah lemas.