Aku duduk untuk beristirahat, setelah selesai memasukkan semua baju dan keperluanku ke dalam koper dan juga tas. Rasanya punggung terasa pegal, padahal hanya membereskan satu koper dan satu tas saja.
Adryan lalu kembali masuk ke kamar. Ia nampak melihat koper dan tas yang sudah siap untuk diangkat.
“Udah selesai?” tanyanya.
“Udah, Mas. Besok tinggal di bawa aja,” jawabku.
“Yakin? Ga ada yang ketinggalan?” tanyanya lagi.
Dahiku langsung mengkerut mencoba mengingat dan berpikir apakah ada barangku yang tertinggal.
“Kayaknya... udah semua, Mas,” jawabku seraya berpikir.
“Yaudah. Besok pagi kita langsung berangkat yah,” ucapnya.
“Pagi-pagi, Mas?” tanyaku sedikit terkejut.
“Iya, kenapa?” balasnya.
“Ga apa-apa. Pagi, jam berapa Mas?” tanyaku lagi.
“Yaa.. abis sarapan aja,” jawabnya.
Adryan nampak mengulum bibirnya dan duduk mendekat di sampingku.
“Sebenarnya… kalau kamu ga keberatan, gimana kalau kita pindahnya hari ini?” sambungnya dengan sedikit ragu.
“Hari ini, Mas?” tanyaku mengernyit dan juga terkejut.
“Iya. Itu juga kalau kamu setuju dan mau," jawabnya.
“Tapi kenapa ngedadak gini, Mas? Tadi katanya besok?” tanyaku.
Ia nampak tersenyum tipis.
"Itu kan kalau kamu mau. Tapi kalau kamu maunya besok, yaudah besok aja. Kita berangkatnya besok pagi, yah. Udah, ga usah dipikirin,” jawabnya lalu mengelus punggungku.
Aku melihat raut wajah Adryan nampak berbeda. Sebenarnya ada apa dengan suamiku ini?
“Mas, ga betah yah di sini? Kamar sama rumahnya... kurang luas yah, Mas?” tanyaku menebak.
“Oh, nggak. Enggak kok, kenapa kamu berpikir kayak gitu? Aku betah kok di sini dan ga masalah juga rumah besar ataupun kecil,” jawabnya.
Aku masih menatap suamiku itu, sepertinya dia tengah memendam sesuatu. Adryan lalu nampak menarik napas panjang seraya tersenyum kecil.
“Aku cuma mau… kita tinggal berdua aja. Hanya kita berdua,” sambungnya seraya menyentuh punggungku dan menatapku dengan lembut.
Aku pun sontak tersenyum.
“Yaudah, kalau gitu aku ikut aja, Mas. Kalau kamu mau pindah hari ini, aku ikut,” ucapku.
Dahi Adryan nampak langsung mengkerut, namun tak lama ia pun tersenyum.
“Udah, besok pagi aja. Kita kan udah bilang ke Bapak, besok kita berangkatnya," ujarnya.
“Emm, gimana kalau malem aja, Mas. Kalau malem kan biasanya ga macet, ya sekalian kita menghindari macet,” usulku.
Adryan nampak berpikir.
“Kamu mau berangkat malem?” balasnya.
“Ya mau-mau aja, Mas. Daripada kena macet,” jawabku.