Malam pun turun dengan langit gelap, namun bulan nampak menggantung tenang di atas sana, seolah ikut menemani malam yang damai.
“Pak, kita pamit yah, mau berangkat,” ucap Adryan lalu menyelami tangan Bapak.
“Iya. Kalian hati-hati yah di jalan, kalau ngantuk lebih baik berhenti, istirahat dulu,” saran Bapak.
“Iya, Pak,” balas Adryan.
“Pak, Mira pamit yah,” ucapku lalu menyelami tangan Bapak juga. Untuk sesaat, aku menatap manik coklat Bapak yang terlihat sendu.
“Iya, Bapak doain supaya kamu betah yah, di sana,” ucap Bapak.
“Iya, Pak,” balasku. Seakan tak bisa ditahan, mataku mulai berkaca-kaca. Perasaan sedih tiba-tiba saja muncul, bagaimanapun sedari kecil, aku tinggal bersama Bapak. Namun kini, aku harus meninggalkannya demi baktiku pada Adryan, yang kini sudah menjadi suamiku.
“Kalau Bapak ada waktu, kapan-kapan main ke rumah kami,” pinta Adryan.
“Iya. Insya Allah nanti Bapak ke sana, jengguk kalian. Dan kalian juga jangan lupa, sering-sering main ke sini. Yah,” balas Bapak.
“Iya, Pak. Nanti kita pasti ke sini, kalau perlu nanti kita juga nginep di sini. Iya kan, Mas?" sahutku.
Adryan hanya tersenyum seraya mengangguk.
“Ah, syukurlah kalau gitu,” ucap Bapak.
“Mbak, aku pamit yah,” ucapku pada Mbak Rita.
“Iya, kamu hati-hati yah, dan jangan lupain yang di sini,” balas Mbak Rita sedikit berbisik.
“Ya enggak dong, Mbak. Ga mungkin aku lupa sama rumah sendiri," balasku.
“Bagus dong, semoga kamu betah yah di sana, terus cepet-cepet isi,” lanjut Mbak Rita seraya menyentuh perutku.
“Iya, Mbak. Amin,” ucapku.
“Oh iya Mbak, salam yah buat Mbak Ratih,” lanjutku.
Mbak Rita langsung menghela napasnya.
“Iya, nanti Mbak bilangin. Udah, kamu ga perlu mikirin Mbak Ratih. Sekarang mending kamu berangkat, nanti kemalaman,” balas Mbak Rita.
“Yaudah. Pak, Mira berangkat, yah,” pamitku.
“Iya. Hati-hati, yah,” ucap Bapak lagi.
“Mbak, aku pamit yah,” ucapku lagi.
“Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut, yah," pesan Mbak Rita.