Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #52

Suasana baru

“Semoga kamu betah, yah?” ucap Adryan.

Aku tersenyum seraya menatap bahagia manik coklat suamiku itu. 

“Selama sama kamu, aku pasti betah, Mas,” balasku.

Wajah Adryan nampak semakin tampan tatkala ia membalas dengan senyum manisnya. Lalu wajahnya kian mendekat, senyum itu masih mendarat di bibirnya, seketika jantungku mendadak berdebar karena tanpa aba-aba Adryan mendekatkan bibirnya dan ingin menciumku. Namun ponselnya tiba-tiba saja berdering, membuatku dan Adryan jadi saling salah tingkah. 

“Sebentar, yah,” ucapnya.

Wajahku sepertinya memerah karena menahan malu yang tak bisa ku jelaskan, sementara Adryan, ia pun terlihat gugup dan nampak langsung sibuk dengan panggilan teleponnya. 

“Halo. Iya, Mas?” ucap Adryan.

“Iya, ini baru aja nyampe,” ucapnya lagi.

“Iya, tapi ga jadi. Soalnya Mira maunya sekarang, karena kalau besok katanya takut macet, jadi kita putusin buat berangkat sekarang. Alhamdulillah sekarang sudah sampai,” lanjutnya lagi.

“Iya, Mas. Kita tunggu ya, Mas. Iya, waalaikumsalam warohmatullah,” ucap Adryan lalu menutup sambungannya.

“Siapa, Mas?” tanyaku.

“Mas Panji. Dia nanya, udah sampai sini apa belum, sebelum berangkat tadi aku kirim kabar ke Mas Panji, kalau kita jadinya berangkat malam. Terusnya katanya, Insya Allah Mas Panji juga mau datang nanti ke sini. Dia mau nengokin kita sama liat rumah ini,” jelas Adryan. 

“Jadi Mas Panji belum pernah ke sini, Mas?” tanyaku.

“Belum. Mas Panji kebetulan sibuk ngajar, aku sama Mas Panji juga jarang ketemu karena sama-sama sibuk. Makanya pas tau kita pindah ke sini, Mas Panji mau nyempetin waktu buat datang ke sini,” jawabnya.

“Mas, istrinya Mas Panji, dosen juga?” tanyaku. Aku memang belum sempat menanyakan tentang istrinya Mas Panji, akupun baru dua kali bertemu dengannya, pertama saat acara lamaran dan kedua saat menikah. Hanya menyapa dengan senyuman, tanpa bicara, apalagi mengobrol. Secara penampilan istri Mas Panji memang cukup cantik dan menarik, dia tinggi, manis, dan terlihat seperti wanita yang berpendidikan tinggi. 

“Iya, istri Mas Panji dosen juga. Cuma secara pangkat, Mas Panji jauh lebih tinggi. Yang aku dengar, dulu istrinya Mas Panji sempet resign jadi dosen,” jawab Adryan.

“Resign Mas, kenapa?” tanyaku lagi dengan mengernyit.

“Katanya sih mau istirahat dulu, sekalian mau promil,” jawab Adryan.

“Promil? Program hamil, maksudnya?” lanjutku memastikan.

“Iya. Tapi sayangnya, belum berhasil. Jujur, aku juga kasihan sama Mas Panji dan juga istrinya, karena sampai sekarang mereka masih berdua dan belum juga dikarunia anak, padahal mereka sudah cukup lama menikah,” jelas Adryan.

“Memangnya, mereka udah nikah berapa lama, Mas?” lanjutku lagi.

Lihat selengkapnya