Aku membuka pintu kamar, ku lihat Adryan tengah memakai baju. Ia nampak baru selesai mandi.
“Mas, kita sarapan dulu, yuk,” ajakku. Adryan pun langsung menoleh lalu tersenyum.
“Iya,” jawabnya.
“Aku tunggu di meja makan, yah,” ucapku.
“Iya,” jawabnya lagi.
Aku kembali ke meja makan, lalu menata ulang makanan agar terlihat lebih rapi. Tak berselang lama, Adryan pun datang dan melihat menu makanan yang sudah ku sajikan di meja makan.
“Ini, kamu yang masak semua?” tanyanya seakan terkejut.
“Iya, Mas. Tadi pagi-pagi banget kebetulan ada tukang sayur yang lewat, aku belanja, terus langsung aku masak,” jawabku.
Sebuah senyuman tipis langsung mendarat di bibirnya. Ia lalu menyentuh kepalaku dan mengusapnya dengan lembut.
“Makasih, ya sayang,” ucapnya.
“Iya, Mas,” balasku.
“Yaudah, kalau gitu kita sarapan yuk,” ajaknya.
“Tapi kamu ga apa-apa Mas, sarapan nasi goreng lagi? Atau mau yang lain?” tanyaku.
Adryan lagi-lagi mendaratkan senyumnya.
“Ga apa-apa. Pokoknya, apapun yang kamu masak aku pasti makan,” jawabnya seraya merangkulku.
Mendengar itu, hatiku rasanya sangat bahagia.
"Yaudah. Kita makan, yuk," ajaknya lagi seraya duduk.
***
Sementara itu, Bapak baru saja keluar dari rumah dan berjalan dengan langkah cepat.
“Eh, Pak Yanto, mau kemana?” sahut Bu Lela yang tengah menjemur pakaian.