“Pak, loh Bapak abis dari mana?” tanya Mbak Rita pada Bapak yang baru saja pulang.
“Bapak abis sarapan di warungnya Bu Ningsih,” jawab Bapak lalu melengos dan duduk di teras. Mbak Rita nampak mengernyitkan dahinya.
“Warung Bu Ningsih? Bapak ngapain di sana?” tanya Mbak Rita lagi seraya menyusul duduk bersama Bapak.
“Ya sarapan,” jawab Bapak lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya.
“Jadi tadi Bapak sarapan di warungnya Bu Ningsih? Pantesan rumah keliatan sepi,” lanjut Mbak Rita.
“Iya. Sekarang kan udah ga ada lagi yang nyiapin Bapak sarapan,” jawab Bapak lalu mengambil sebatang rokok dan membakar ujung rokoknya.
Dahi Mbak Rita nampak berkerut.
“Maksudnya Mira, Pak?” tanyanya.
“Ya, iya. Siapa lagi,” jawab Bapak lalu menghisap rokoknya.
“Tapi… kan masih ada Rena, Pak,” ujar Mbak Rita.
“Kamu kayak ga tau aja si Rena gimana. Pusing Bapak sama anak itu,” keluh Bapak.
Mbak Rita nampak membuang napas kasar.
“Ini, Rita juga bawa makanan buat Bapak,” ujarnya seraya meletakkan kantong plastik berukuran kecil di meja.
“Taro aja dulu, nanti Bapak makan,” balas Bapak.
Tiba-tiba Rena keluar. Ia nampak menghela napas dengan gaya khas bangun tidur.
“Pak, Mbak. Loh, pada ngapain?” tanyanya saat menoleh ke samping teras.
“Lagi ngobrol,” jawab Mbak Rita dengan ketus.
“Yeee… biasa aja kali, Mbak,” ujar Rena.
“Itu, apa?” tanya Rena menunjuk ke kantong plastik di meja.
“Ini makanan, buat Bapak dari Mbak,” sahut Mbak Rita ketus seraya menyentuh serta menahan bungkusan plastik yang ia bawa, seperti takut akan direbut oleh Rena.