Aku sudah tiba di kantor, hari ini adalah hari pertamaku kembali bekerja setelah beberapa hari cuti menikah.
“Mas, aku masuk yah,” pamitku lalu mencium tangan Adryan.
“Iya. Kamu semangat yah kerjanya, kalau kamu mau dijemput kabarin aja. Nanti aku usahain buat jemput kamu,” ucap Adryan.
“Iya, Mas. Yaudah, aku masuk dulu yah. Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam,” jawab Adryan. Aku pun turun dari mobil.
Sebenarnya aku pamit pada Adryan sejak masih di rumah, namun Adryan memaksa untuk mengantarkanku ke kantor. Padahal jaraknya lumayan cukup jauh dan ia juga harus ke kantor karena katanya ada urusan di sana, walaupun sebetulnya ia belum masuk bekerja karena masih cuti. Aku yakin Adryan pasti terkena macet melihat kondisi jalanan tadi yang sudah ramai meskipun terbilang masih pagi. Adryan memang mendapatkan cuti libur lebih banyak daripada aku, mungkin karena statusnya seorang manajer, sementara aku hanya staf biasa yang harus mengikuti dan menerima kebijakan yang diberikan padaku, tak terkecuali perihal cuti libur.
“Mir..!” panggil Meyra.
Gadis itu nampak berlari menghampiriku.
“Ciee… pengantin baru,” ejeknya.
“Apaan, sih Mey,” balasku.
“Oh iya, tadi dianterin? Sama siapa?” tanya Meyra.
“Adryan,” jawabku.
“Emmm. Suami?” ejeknya lagi seraya menyenggol lenganku.
“Apaan sih, Mey,” balasku lagi.
“Aku pikir siapa yang turun dari mobil. Pas diliat deket, ternyata kamu, toh. Jadi suami kamu itu punya mobil, nih?” tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum kecil.
Aku dan Merya berjalan bersama menuju meja kami.
“Oh iya, Mir. Aku beneran ga enak deh sama kamu, karena aku ga bisa dateng ke acara nikahan kamu. Maaf yah," ucapnya.
“Udah ga apa-apa. Oh iya, terus gimana Ibu kamu kondisinya, udah sehat lagi?” balasku.
“Alhamdulillah Ibu udah baik. Untungnya jatuhnya tuh ga gimana-gimana, cuma kakinya aja yang kekilir, pas udah diurut langsung mendingan,” jelasnya.
“Syukurlah, aku lega dengernya,” ucapku.
Sehari sebelum acara pernikahanku, Meyra memang sempat memberi kabar bahwa ia tidak bisa datang. Meyra mendadak harus pulang kampung karena mendapat kabar musibah bahwa ibunya jatuh di kamar mandi. Mendengar itu, Meyra langsung panik dan terlebih Ibunya juga punya riwayat hipertensi membuat Meyra ingin buru-buru pulang untuk melihat kondisi ibunya.
“Hai, Rin,” sapa Meyra pada Rini.
Aku dan Meyra menghampiri meja kami.
“Hai. Loh, kalian kok masuk barengan?” tanya Rini.