Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #56

Malam pertama

Malam itu, aku dan Adryan baru saja sampai rumah setelah seharian jalan-jalan dan menikmati waktu berdua. Kami layaknya anak muda yang dilanda kasmaran, abg bucin yang tengah jatuh cinta. Adryan sangat memperlakukanku dengan istimewa, aku selalu terharu dengan sikapnya yang lembut. Mungkin aku dan Adryan tengah menjalani, pacaran setelah menikah, ikatan yang halal diantara kami telah menghapus jarak, hingga kami tidak segan untuk saling bergandengan. 

Adryan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia juga sempat mengajakku untuk mandi bersama, namun karena masih merasa malu aku pun menolaknya, syukurnya Adryan mengerti hal itu. Ia masuk sendiri ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sekitar 15 menit Adryan keluar dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya, membuatku sedikit salah tingkah saat melihat dada bidangnya. 

Tak bisa dipungkiri bahwa masih ada perasaan canggung di hati, mengingat pendekatan antaraku dan Adryan sangatlah singkat, tanpa adanya pacaran apalagi sentuhan seperti pasangan pada umumnya. Namun kenyataan yang terjadi dan kewajiban yang melekat membuatku harus berani menatap Adryan lebih lama, menyentuhnya ataupun menerima sentuhan darinya, meskipun masih terasa aneh dan tak biasanya, karena tak pernah merasakan itu sebelumnya.

Aku keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuh. Ku liat Adryan tengah merebahkan tubuhnya di kasur seraya memainkan gawainya.

"Kamu udah selesai?" tanyanya dan langsung menyimpan gawainya di nakas.

Aku mengangguk pelan seraya tersenyum. Aku menyusul Adryan ke kasur, Adryan langsung menggeser mengarah mendekatiku. Nampaknya itu sebuah kode, sepertinya Adryan ingin... namun tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, lalu disambung dengan petir yang menggelegar membuatku terkejut dan refleks memeluk Adryan, dengan erat Adryan membalas pelukan itu. 

"Kamu udah siap?" tanyanya dengan lembut. Aku langsung menoleh padanya, menatap manik coklat suamiku yang seolah tengah dilanda oleh hasratnya. Rupanya Adryan tak merasa lelah, meski seharian kita sudah menghabiskan waktu di luar, akupun tak sampai hati menolaknya, terlebih ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istrinya.

Aku tersenyum malu seraya mengangguk, Adryan lalu langsung melakukan aksinya, ia mendekatkan wajahnya padanya lalu kudapati sentuhan kecil untuk pertama kalinya.

Petir semakin menggemuruh dan hujan semakin terdengar deras, seakan menambah dukungan suasana malam itu.

"Kamu tenang aja yah, yang rileks. Katanya ini memang agak sakit," ucapnya. Sambil mengulum senyum aku hanya mengangguk. Adryan lalu mematikan lampu. 

lni adalah sesuatu yang tidak biasa, meski dalam keadaan gelap aku bisa merasakan Adryan berada tepat di atas tubuhku, deru napasnya sangat terdengar jelas di telingaku. Perlahan ia mulai membuka tali yang mengikat di baju piyamaku, hatiku semakin berdebar tatkala aku merasakan sentuhan bebas tangan Adryan yang menjalar di tubuhku. Meski aku sudah resmi menjadi istrinya dan ini merupakan salah satu kewajibanku dalam berbakti padanya, namun tetap saja, rasanya seperti aneh dan geli, mengingat ini adalah pertama kalinya dalam hidupku. Adryan yang selama ini ku kenal dengan pria yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, nyatanya di atas ranjang ia adalah laki-laki perkasa, dimana hasratnya kini seolah tengah menggebu. Aku merasakan bahwa aku tidak memakai sehelai kain pun, Adryan sudah melepaskan semua pakaianku. Aku hanya bisa menerima setiap sentuhan yang diberikannya padaku. 

"Tahan, yah," bisiknya.

Tanganku meremas sprei tatkala sesuatu itu masuk ke tubuhku. Rasa sakit yang menyerang disertai dengan debaran jantung yang semakin kencang membuatku hanya bisa diam, aku mencoba menikmati semua rasa yang bercampur itu. Biarkan Adryan bermain dengan perasaan dan hasratnya, meski aku harus menahan rasa sakitnya, tapi bukankah sudah seharusnya seperti ini? Lagipula, yang pernah ku dengar, rasa sakit ini hanya sekali saja, saat pertama kali melakukannya. 

Hujan mulai mereda, setelah kurang lebih satu jam Adryan bermain, ia seperti merasa lelah, tubuhnya turun dan tidur di sampingku. Ia menarik selimut untuk menutup tubuh kami, Adryan lalu memelukku dengan hangat.

"Makasih ya, sayang. Maaf, jika kamu ngerasain sakit," ucapnya.

Aku tersenyum tipis padanya, meski dalam gelap aku bisa melihat Adryan tengah menatapku dengan lembut.

"Ga apa-apa Mas, ini sudah jadi kewajibanku. Kamu ga perlu minta maaf, tubuh aku sudah menjadi milik kamu," ucapku membalas.

Lihat selengkapnya