Adryan berjalan masuk ke dalam gedung kantor. Tatapannya lurus ke depan, tajam dan tanpa keraguan. Suara langkah sepatunya seolah menggema pelan. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala kecil sambil menyapanya. Adryan membalasnya dengan senyum sederhana namun terlihat ramah dan hangat.
"Selamat pagi, Pak," sapa salah satu karyawan.
"Pagi," balasnya dengan ramah.
"Selamat pagi Pak Adryan. Selamat ya Pak, atas pernikahannya, semoga langgeng dan Bapak cepat-cepat dikarunia anak," ucap karyawan lainnya.
"Amin. Makasih, ya buat doanya," balas Adryan.
Adryan lalu berjalan menuju ruangannya.
"Pak. Selamat pagi, Pak," ucap Nina dan langsung berdiri.
"Pagi," balas.
"Pak!” panggil Nina. Adryan pun sontak menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
"Ya, ada apa?" tanyanya.
Gadis bertubuh tinggi itu pun nampak mengulum senyumnya.
"Selamat ya, Pak, atas pernikahan Bapak. Semoga.. Bapak bahagia," ucapnya dengan sedikit terbata dan juga gugup.
Adryan lalu tersenyum tipis.
"Makasih ya, Nin. Saya masuk dulu," balasnya lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Sial. Ternyata Pak Adryan diam-diam nikah? Sejak kapan Pak Adryan dekat sama cewek? Kok ga ada desas-desus apa-apa, tiba-tiba nikah aja. Terus istrinya juga biasa aja lagi. Lumayan cantik sih, dikit, tapi tetap aja cupu, kaku, keliatan banget dari kampungnya lagi. Masih mending juga aku, modis, tau fashion, bisa ngeimbangin Pak Adryan kalau diajak kemana-mana dan ga malu-maluin. Daripada istrinya, gayanya udah kayak anak tahun 90-an. Bisa-bisanya Pak Adryan naksir sama cewek cupu kampungan kayak gitu. Tapi... apa emang kayak gitu seleranya Pak Adryan? Dia lebih suka cewek kampung kayak gitu?" batinnya kesal.
Nina nampak seperti tak terima dengan pernikahan Adryan yang sudah terjadi.
Lalu Adryan terlihat keluar dengan membawa berkasnya.
"Loh, Pak. Ma-mau kemana, Pak?" tanyanya gugup. Ia juga langsung berdiri dan nampak seperti penasaran.
"Saya mau pulang. Kenapa?" balasnya dengan mengernyit.
"Pu-pulang, Pak? Bukannya.. Bapak baru aja dateng?" tanyanya lagi.
"Saya ke sini cuma mau ngambil berkas. Saya mau pulang karena saya masih cuti," jawab Adryan.
"Oh. Gitu ya, Pak," ujar Nina.
"Pantesan aja Pak Adryan pake pakaian kayak gitu, biasanya juga rapi," batin Nina lagi seraya memperhatikan penampilan Adryan yang hanya memakai kaos berkerah dan jaket kulitnya.
"Ada lagi yang mau ditanyakan? Kalau tidak ada, saya mau pulang," tanya Adryan.
"Umm. Ga ada, Pak," jawab Nina.
"Oh iya, untuk rekap jadwal meeting nanti, kamu bisa kirimkan lewat email," ujar Adryan.
"Baik, Pak," balas Nina.
Adryan langsung pergi begitu saja. Sementara Nina nampak mengendus kesal seraya menatap punggung Adryan yang berjalan semakin jauh.
"Jutek banget, sih," keluhnya seraya mengendus kesal.