Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #58

Bimbang dan lelah di malam sunyi

Malam hari, aku tengah menata makanan di meja makan. Beberapa hidangan tersaji dengan hangat untuk makan malamku bersama Adryan. 

"Mas, makan malam dulu, yuk," ajakku pada laki-laki tampan yang baru saja menghampiriku.

Adryan nampak melihat makanan di meja makan yang sudah ku hidangkan.

Aku dan Adryan lalu duduk bersama untuk menyantapnya.

"Tadi kenapa ga nelpon buat di jemput?" tanyanya tiba-tiba dan sontak membuat tanganku berhenti bergerak saat akan mengambilkan nasi untuknya. Aku pun langsung menoleh padanya. 

"Ga apa-apa, Mas. Aku bisa pulang sendiri kok. Aku ga mau ngerepotin kamu, karena kan jaraknya juga lumayan jauh," jawabku.

Adryan hanya diam dan nampak menghela napasnya.

"Segini cukup, Mas?" tanyaku saat menuangkan nasi untuknya.

"Cukup, cukup," jawabnya.

Adryan lalu mengambil ayam dan sayur untuk lauknya.

Untuk sesaat hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.

"Kamu... apa ga, sebaiknya.. resign aja?" tanyanya dengan nada ragu dan membuatku langsung menoleh lagi padanya.

"Uhuk, uhuk...!"

"Kamu, kenapa? Ini, ini kamu minum dulu," ujar Adryan dan langsung memberikanku minum.

Tiba-tiba saja aku tersendak karena terkejut mendengar pertanyaan sekaligus keinginan Adryan itu.

"Gimana? Udah enakan?" tanyanya yang terlihat sedikit panik. 

Aku hanya mengangguk pelan seraya membersihkan mulutku dengan tissu. Sejenak aku diam untuk mengambil napas.

"Mas, kamu... mau aku resign?" tanyaku dengan nada yang berat.

Adryan juga nampak menghela napasnya.

"Aku sih, sebenarnya… cuma ga mau kamu, kecapean aja. Lagipula, istri itu kan, lebih baik di rumah," ungkapnya dengan ragu. 

"Tapi... kalau kamu merasa berat dan masih mau kerja. Ya.. itu terserah kamu," sambungnya. 

Untuk sesaat aku terdiam seraya memikirkan ucapan Adryan. Sebenarnya aku juga tau dan sadar, kalau istri memang sebaiknya di rumah, apalagi jika suami sudah memenuhi semua kebutuhan rumah tangga. Tapi, sejujurnya, aku merasa masih ingin bekerja mengingat pekerjaan ini adalah salah satu tumpuan hidupku selama ini. 

"Udah, udah. Ga usah dipikirin dulu, lebih baik kita abisin makanannya," saran Adryan.

"Iya, Mas," balasku. 

"Apa sebaiknya, aku resign aja yah dari kantor? Sepertinya Adryan maunya seperti itu," batinku.

Lihat selengkapnya