Derita Penantian Cinta

Ulfah Pauziah
Chapter #59

Siasat Rena

Keesokan harinya. Matahari sudah bersinar tinggi, memantulkan cahaya keemasan di sudut pagi. Angin bergerak pelan membawa aroma hari yang baru dimulai. 

Rena bangun dari tidurnya, ia menggosokkan matanya yang nampak masih berat. Ia bangun, beranjak dan keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke dapur dan melihat tumpukan piring kotor di wastafel, ia mengendus kesal seraya menatap nanar pada tumpukan piring kotor itu. Dengan raut wajah yang kesal, Rena pun seolah terpaksa mencucinya. Beberapa kali ia menghela napas dan mengendus kesal. 

Sementara Bapak, seperti biasanya Bapak duduk di teras dengan ditemani kopi, rokok serta gawainya. 

Selesai mencuci piring Rena mencuci tangannya, lalu tiba-tiba perutnya keroncongan. 

“Duh. Udah laper lagi," keluhnya seraya menyentuh perutnya.

Rena menoleh ke meja, ia membuka penutup makanan, namun tak ada makanan sedikitpun, lagi-lagi ia mengendus kesal lalu pergi dari dapur.

Rena lalu menghampiri Bapak di teras.

"Capek," keluhnya seraya duduk di bangku teras samping Bapak.

"Capek? Capek, kenapa?" tanya Bapak.

"Abis cuci piring," jawabnya dengan malas.

"Ohh, cuma cuci piring doang," lontar Bapak. Seketika Rena langsung menoleh, ia mengendus dan menatap kesal pada Bapak. Lalu pandangannya tak sengaja turun ke meja dan dahinya nampak sedikit berkerut. 

"Pak, ini apa?" tanyanya melihat bungkusan plastik yang ada di meja. Bapak pun menoleh pada bungkusan itu. 

"Itu makanan, dari Mbak Rita," jawab Bapak lalu menghisap rokoknya dan kembali fokus pada gawainya.

Rena langsung menyambar bungkusan plastik itu dengan gembira.

"Tadi Mbak Rita ke sini, ngasih makanan itu buat Bapak sarapan," ujar Bapak.

"Kok belum di makan, Pak?" tanya Rena.

"Bapak sudah sarapan bubur tadi, di tempatnya Bu Yuyum," jawab Bapak.

"Kalau gitu, ini buat Rena yah Pak. Rena laper, belum sarapan," bujuknya. 

"Iya. Cepat makan, untung kamu duluan yang liat," ujar Bapak.

"Maksudnya, Pak?" tanya Rena dengan mengernyit.

"Ya kalau si Benny yang liat duluan, ya abis sama dia dimakan," jawab Bapak.

"Ya jangan dikasih dong, Pak. Lagian Bapak kenapa sih, selalu aja ngemanjain Mas Benny. Sekali-kali pikirin perut Rena kek," gerutunya.

Bapak menoleh sebentar pada anak bungsunya itu lalu menghela napasnya. 

"Pagi, Pak Yanto. Waah, Bapak sama anak lagi sama-sama santai yah di teras," sapa seorang wanita paruh baya.

"Yaa... kalau saya kan emang udah biasa duduk di teras sambil ngopi kayak gini. Ngomong-ngomong mau kemana Bu Dini, pagi-pagi gini?" balas Bapak.

Lihat selengkapnya